Muharram dan Cara Memuliakannya

Bulan Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah SWT dan umat Islam. Dan kini kita jumpai berbagai macam cara dilakukan oleh orang untuk menghormati bulan Muharram. Ada yang wajar dan ada yang tidak wajar, artinya ada yang benar dan ada yang menyimpang dari ajaran Islam. Lalu bagaimana yang sebenarnya?

Sehubungan dengan ini ada baiknya kita ketahui tentang rahasia Muharram ini. Jika dihubungkan dengan sejarah penanggalan Islam, maka Khalifah Umar bin Khattab-lah yang paling berperan. Sebab pada masa pemerintahan Umar inilah penanggalan Islam dimulai dan dicantumkan dalam dokumen-dokumen resmi pemerintahan.

Suatu ketika KhalifahUmar bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk menentukan penanggalan Islam. Di antara yang hadir itu ada yang usul agar penanggalan dimulai dari hari lahir Rasulullah s.a.w. Ada yang usul dihitung dari awal diangkatnya Muhammad S.a.w. menjadi Rasul.

Ada pula yang usul agar dimulai dari hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah, dan masih banyak lagi usulan yang muncul pada saat itu. Tetapi yang dipilih untuk disepakati adalah bahwa penghitungan tahun Islam dimulai dari tahun Hijrah Nabi s.a.w.
Lalu Umar bertanya, kalau tahun dimulai dari hijrah Nabi, maka bulan dihitung dari bulan apa? Para sahabat menjawab dari bulan Rajab, ada yang berkata dari bulan Ramadlan, ada yang mengusulkan dari bulan Dzulhijjah.

Utsman bin Affan mengusulkan agar awal tahun Hijriyah dimulai dari bulan Muharram, yaitu bulan sepulang para jamaah haji dari Mekah. Inilah yang disetujui oleh Khalifah Umar r.a. dan disetujui oleh umat Islam bahwa awal tahun (bulan) Islam adalah bulan Muharram.

Dan hal ini (pengukuhan tanggal Islam) terjadi pada tahun ke 17 H. (lihat Syarah Tadriburrawi, Abu Abdurrahman Solah, Dar al-Kutub Ilmiyah, Bairut). Jadi, sekarang, seharusnya orang yang mengaku muslim mengetahui dan paham tentang penanggalan Hijriyah (Islam).

Misalnya, pada tahun ini ( 2009 ) bulan-bulan Islam sebagai berikut. Januari 2009 M = Muharram 1430 H. (Januari = Tahun Baru Masehi/Nasrani). Februari 2009 M = Shafar 1430 H. Maret 2009 M = Rabi’ul Awal/Maulid 1430 H. April 2009 M = Rabiul Akhir/Ba’da Maulid 1430 H. Mei 2009 M = Jumadil Ula 1430 H. Juni 2009 M = Jumadil Akhir 1430 H. Juli 2009 M = Rajab 1430 H. Agustus 2009 M = Sya’ban 1430 H. September 2009 M = Ramadlan 1430 H. Oktober 2009 M = Syawal 1430 H. November 2009 M = Dzul Qa’dah 1430 H. Desember 2009 M = Dzul Hijjah 1430 H (18 Desember 2009 = 1 Muharram 1431 H / Tahun Baru Islam).

Ada banyak riwayat tentang sebab dan cara memuliakan bulan Muharram. Di Indonesia, masyarakat muslim telah menjadikan tanggal 10 Muharram sebagai lebaran atau hari raya bagi anak yatim. Itulah sebabnya pada hari itu masyarakat beramai-ramai merayakan dan memanja anak-anak yatim yang ada di lingkungannya.

Ada yang mengumpulkan mereka lalu diajak membaca ayat-ayat Al-Quran, usai acara mereka diberi makan dan amplop berisi uang. Ada juga yang diajak jalan-jalan ke tempat-tempat ziarah para wali/habaib, rekreasi seperti di pantai, di taman, di puncak, dan tempat-tempat indah lainnya.

Ada juga yang memberi santunan uang sekolah lengkap dengan panggung gembira, dangdut ria (dan ini yang terlarang), dan berbagai macam acara yang diselingi dengan sambutan para tokoh.

Mengapa mereka menyebutnya sebagai lebaran yatim? Mungkin mereka mendasari tradisi ini dengan hadis Nabi s.a.w. yang intinya menyatakan
“Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim di hari Asyura’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah SWT mengangkat derajatnya setiap helai rambut yang diusap satu derajat.”

Di samping itu umat Islam disunahkan berpuasa, sebagaimana hadis Rasulullah s.a.w. yang menganjurkan kepada kita agar berpuasa Asyura’ bahkan termasuk tanggal 9 Muharram yang disebut hari Tasu’a’, “Di kala Rasulullah s.a.w. berpuasa pada hari Asyura’ dan beliau memerintahkan untuk dipuasai, para sahabat menghadap Nabi s.a.w. seraya berkata: “Ya Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani”. Rasulullah s a w lalu bersabda :”Tahun yang akan datang, insya Allah aku akan berpuasa (juga) pada tanggal sembilan/tasu’a’ .” (H.R.Muslim dan Abu Dawud).

Latar belakang dimuliakannya bulan Muharram antara lain disebabkan hadis Nabi s.a.w. yang menceritakan banyak peristiwa yang terjadi pada bulan ini (terutama Asyura’) antara lain: hari penciptaan langit dan bumi, penciptaan Nabi Adam dan Ibu Hawa’ Alaihimas Salam, Nabi Ibrahim selamat dari api, tenggelamnya Fir’aun di Laut Merah, dan terjadinya hari kiamat nanti juga pada tanggal 10 bulan Muharram (hari Jumat), dan masih banyak lagi.

Lepas dari itu semua, yang penting adalah kita memuliakannya sesuai tuntunan Rasulullah s.a.w. seperti membantu anak yatim, berpuasa, memberi berbuka orang yang puasa. Juga amal-amal baik lainnya seperti memperbanyak zikir, membaca kalimat Tayyibah atau membaca Kitab Suci Al-Quran, dan lain-lain.

Tidak baik mengisi bulan Muharram dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Misal, mandi kembang tujuh rupa di malam Asyura’, atau bertapa di goa atau tempat-tempat sepi lainnya, atau mencuci benda-benda keramat (seperti keris, jimat, batu yang dikeramatkan) yang dianggap mengandung magis, dan lain-lain.
Wallahu a’lam bis shawab. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua. Amin.

Oleh : KH A MAHFUDZ ANWAR
Duta Masyarakat 21 Desember 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *