Menghidupkan Mayit Dalam Masjid

MENGHIDUPKAN MAYIT DALAM MASJID
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Hanya yang meramaikan (syiar) masjid-masjid Allah, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, membayar zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah [09]:18)

Pada ayat sebelumnya (QS. At Taubah [09]:17), Allah SWT menjelaskan orang-orang atheis atau beragama tapi ber-Tuhan secara tidak benar (musyrik) tidak mungkin tertarik untuk meramaikan syiar masjid. Masjid artinya tempat bersujud kepada Allah, maka tidak mungkin orang yang tidak ada kemauan bersujud kepada Allah SWT mendatangi masjid. Mohon maaf, jika Anda yang tidak aktif berjamaah di masjid tersindir atau tertampar dengan ayat ini.

Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas (QS. At Taubah [09]:18) mempertegas bahwa orang-orang yang aktif mengisi aktifitas masjid (takmirul masajid) hanyalah mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, mendirikan shalat, membayar zakat, dan tidak takut kepada siapapun kecuali Allah. Merekalah yang juga siap mengurbankan jiwa, raga dan hartanya untuk merawat masjid, melengkapi sarana yang diperlukan, dan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk dana kegiatan keagamaan di masjid. Mereka dengan senang hati mengeluarkan dana berapapun untuk masjid sebab mereka yakin membangun dan merawat masjid sama dengan mempersiapkan bangunan rumah untuknya di surga sebagaimana yang dijanjikan Nabi SAW. Siapapun yang mendobrak kesepian masjid dengan aktifitas-aktifitas keagamaan dan sosial, maka dialah yang tidak merasakan kesepian di alam kubur, sebab semua kebaikannya menjadi penghibur di tengah kesunyian kubur.

Pada ayat di atas juga tersirat, orang yang tidak membayar zakat atau enggan berbagi kekayaan pada orang lain tidak akan aktif ke masjid. Ia sangat khawatir bertemu dengan orang-orang miskin yang meminta bantuan. Masjid adalah aset publik, maka semua orang:  miskin atau kaya, berpendidikan atau tidak, penguasa atau rakyat, sehat atau sakit berhak memasuki masjid. Semakin aktif seseorang ke masjid, berarti semakin dekat dengan tetangga dan orang sekitar dengan berbagai latarbelakangnya dan semakin pandai berempati untuk lebih berkesempatan berbagi.

Jika Anda lebih sering shalat di rumah atau di ruang kerja daripada di masjid terdekat dengan seribu alasan, maka sebaiknya Anda memperhatikan firman Allah SWT, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (.QS Al Baqarah [2]:43). Artinya, bergabunglah segera dengan semua orang yang Anda saksikan  sedang membungkukkan badan dengan keriangan dalam masjid itu. Anda pasti masih ingat kisah berikut ini. Suatu hari, seorang lelaki buta menghadap Nabi SAW untuk meminta keringanan tidak shalat berjamaah di masjid karena tidak ada yang menuntunnya. Nabi SAW mengiyakan.  Akan tetapi, ketika tamu itu berpamitan, Nabi SAW memanggilnya dan bertanya, “Apakah engkau mendengar adzan shalat?” “Ya,” jawabnya. Nabi SAW lalu meralat keringanan tersebut dan tetap memerintahkan shalat berjamaah di masjid. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a). Sebagai apresiasi untuk mereka yang aktif berjamaah dan mengisi kegiatan-kegiatan keagamaan di masjid, Nabi SAW bersabda, “Sungguh, semua orang yang meramaikan syiar masjid adalah keluarga Allah (ahlullah)” (HR. Abdullah bin Humaid dari Anas bin Malik r.a). Keluarga Allah artinya mereka sangat dekat dengan Allah, bahkan memperoleh jaminan tanggungan-Nya dalam semua urusan.

Apakah untuk menjadi muslim terbaik cukup dengan hadir secara rutin di masjid? Tidak. Jika Anda bertahun-tahun aktif ke masjid, tapi iman dan pola hidup Anda tidak berubah, maka hanya fisik Anda yang hidup sedangkan iman Anda telah mati. Untuk apa ke masjid  jika iman Anda tetap menjadi mayit? Masjid harus menghidupkan iman Anda yang sekarat. Menurut ayat di atas, pecinta dan pengisi kegiatan masjid diharapkan memiliki iman yang menumbuhkan perilaku positif, antara lain lebih berkualitas shalatnya, lebih bersemangat untuk berbagi, dan memiliki kepercayaan diri untuk bertindak “..dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah..” Percaya diri mutlak diperlukan untuk modal prestasi dalam segala hal. Sekalipun Anda siswa teladan atau wisdudawan terbaik, Anda pasti terkalahkan dalam kompetisi hidup oleh teman Anda yang tidak berprestasi, tapi memiliki semangat dan percaya diri.  Muslim dengan keimanan yang hidup tidak akan takut kepada siapapun, kecuali kepada Allah SWT. Ia sadar bahwa manusia hanya dituntut untuk bekerja, berusaha dan berkarya seoptimal mungkin, sedangkan sukses atau gagal bukan wilayah kekuasaanya. Pecinta masjid tidak akan kecewa apalagi malu dengan sebuah kegagalan. Dengan ketakutannya kepada Allah semata, ia menjadi pribadi yang berkarakter mulia yang membuahkan kepercayaan (trust) dari semua orang, serta mengundang daya tarik setiap orang untuk bekerjasama. Tidak ada modal kesuksesan yang lebih mahal daripada kepercayaan orang. Itulah iman yang hidup.

    Setiap memasuki masjid, Anda diajari Nabi SAW untuk berdoa, “Wahai Allah, ampunilah semua kesalahanku dan bukakan semua pintu rahmat untukku.”  Ini berarti setiap memasuki masjid, Anda dituntut untuk berjanji tidak mengulangi kesalahan dan merubah cara hidup yang memungkinkan pintu kesuksesan terbuka untuk Anda. Lakukan perenungan mendalam dalam masjid (i’tikaf) untuk introspeksi dan kuatkan kemauan untuk berubah. Bagaimana mungkin pintu rahmat dan kesuksesan terbuka untuk Anda jika sepulang dari masjid cara berfikir Anda tetap negatif, cara bicara Anda tidak berubah, dan semangat dan streategi kerja Anda tidak ada peningkatan. Hidupkan iman Anda melalui masjid.

Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Allah telah mengirimkan wahyu kepadaku (untukmu): “Wahai saudara para rasul, wahai saudara para pemberi peringatan! Berikan peringatan kepada kaummu, agar mereka tidak memasuki satu rumahpun dari rumah-rumah-Ku (masjid) kecuali dengan hati yang bersih, lidah yang benar, tangan yang suci dan kemaluan yang bersih (dari dosa). Jangan sekali-kali mereka memasuki rumah-rumah-Ku sedang ia masih berurusan kedhaliman pada orang lain. Aku benar-benar melaknatnya selama ia berdiri shalat di hadapan-Ku, sampai dia menyelesaikan kedhaliman itu kepada yang terdhalimi. Jika ia telah menyelesaikannya, Aku akan menjadi telinganya untuk mendengar, dan menjadi matanya untuk melihat. Ia akan menjadi kekasih dan pilihan-Ku. Ia menjadi tetangga-Ku bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada di dalam surga.” (HQR. Abu Na’im, Al Dailami dan Ibnu ‘Asaakir dari Hudzaifah r.a).

Pesan Malaikat Jibril di atas mengingatkan Anda untuk membersihkan hati dari D3 (dengki, dongkol dan dendam) dan S2 (serakah dan sombong) setiap memasuki masjid. Masjid harus menjadi alat pembersih virus hati. Tidak mungkin wajah Anda simpatik dan tutur kata Anda menyenangkan keluarga dan semua orang,  jika D3 masih mengotori hati Anda. Jangan berharap lampu menyala dari baterai yang telah mati. Jadikan semua sikap dan tindakan Anda menyenangkan orang dan hindari hal-hal yang menyakitkan apalagi mengambil sekecil apapun dari hak-hak mereka. Masjid harus membangkitkan iman yang stagnan dan menghidupkan iman yang telah mati. Setiap keluar dari masjid bertekadlah untuk merubah sikap dan tindakan Anda kepada istri, anak-anak Anda, anak buah Anda, pimpinan, tetangga, dan pelanggan Anda. Pastikan Anda telah merubah pola pikir, pola kerja dan pola hidup Anda setiap keluar dari masjid. Itulah hidup berkualitas yang tercerahkan dan mencerahkan, ”.. maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” Semoga kita termasuk dalam firman ini. Selamat menghidupkan mayit (iman yang mati) melalui ibadah masjid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *