Maulid Nabi Muhasabah Diri

Mementingkan pembinaan umat dan syiar Islam melalui kegiatan Maulid Nabi merupakan ikhtiar kita untuk mengambil hikmah sekaligus meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kita memaknai  peringatan kelahiran  Rasulullah SAW sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sepatutnya kita mencontoh perilaku Rasulullah SAW dengan memiliki akhlak yang baik. Dengan bacaan Barzanji yang berisi cerita  kehidupan Nabi Muhammad dengan  syair-syair  yang bernilai sastra  tinggi, umat Islam dapat berdoa kepada Allah dengan menyebut  nama Nabi Muhammad untuk mendapatkan syafaat Rasulullah SAW.

Dengan bershalawat, ada keyakinan mampu menyampaikan kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW. Saya mempunyai pengalaman, mempunyai seorang ustadzah beraliran sufi. Setiap kali memperingati Maulid Nabi Muhammad, dia membaca  Barzanji dan shalawat. Ketika sampai pada bacaan tertentu ustadzah tersebut larut dalam kekhusyukan sampai pingsan, karena merasakan kehadiran Rasulullah SAW. Dan, itu terjadi di setiap Maulid Nabi, sampai 9 kali saya menyaksikannya.

Dalam kitab Barzanji, keagungan akhlak Rasulullah tergambarkan dalam setiap perilaku Beliau sehari-hari. Sekitar umur tiga puluh lima tahun, Beliau mampu mendamaikan beberapa kabilah dalam hal peletakan batu Hajar Aswad di Ka’bah. Di tengah masing-masing kabilah yang bersitegang mengaku dirinya yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Rasulullah tampil justru tidak mengutamakan dirinya sendiri, melainkan bersikap akomodatif dengan meminta kepada setiap kabilah untuk memegang setiap ujung sorban yang dia letakan di atasnya Hajar Aswad. Keempat perwakilan kabilah itu pun lalu mengangkat sorban berisi Hajar Aswad, dan Rasulullah kemudian mengambilnya lalu meletakkannya di Ka’bah.

Kisah lain yang juga bisa dijadikan teladan adalah pada suatu pengajian seorang sahabat datang terlambat, lalu dia tidak mendapati ruang kosong untuk duduk. Bahkan, dia minta kepada sahabat yang lain untuk menggeser tempat duduknya, namun tak ada satu pun yang mau. Di tengah kebingungannya, Rasulullah SAW memanggil sahabat tersebut dan memintanya duduk di sampingnya. Tidak hanya itu, Rasulullah kemudian melipat sorbannya lalu memberikannya pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Melihat keagungan akhlak Nabi Muhammad, sahabat tersebut dengan berlinangan air mata lalu menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk, tetapi justru mencium sorban Nabi Muhammad SAW tersebut.

”Ya Nabi salâm ‘alaika, Ya Rasuul salaam ‘alaika, Ya Habiib salaam ‘alaika, Shalawatullaah ‘alaika…” (Wahai Nabi salam untukmu, Wahai Rasul salam untukmu, Wahai Kekasih salam untukmu, Shalawat Allah kepadamu…). Itulah bacaan shalawat dan pujian kepada Rasulullah yang selalu bergema saat kita membacakan Barzanji di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bila ada yang bertanya: apa tujuan dari peringatan Maulid Nabi dan bacaan shalawat serta pujian kepada Rasulullah? Dr. Sa’id Ramadlan Al-Buthi menulis dalam Kitab Fiqhus Siirah,” tujuannya tidak hanya untuk sekadar mengetahui perjalanan Nabi dari sisi sejarah saja. Tapi, agar kita mau melakukan tindakan aplikatif yang menggambarkan hakikat Islam yang paripurna dengan mencontoh Nabi Muhammad SAW.”

Annemarie Schimmel dalam bukunya, Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan terhadap Nabi SAW dalam Islam,  menerangkan bahwa teks asli karangan Ja’far Al-Barzanji, dalam bahasa Arab, sebetulnya berbentuk prosa. Namun, para penyair kemudian mengolah kembali teks itu menjadi untaian syair, sebentuk eulogy bagi Sang Nabi. Pancaran kharisma Nabi Muhammad SAW terpantul pula dalam sejumlah puisi, yang termasyhur: Seuntai gita untuk pribadi utama, yang didendangkan dari masa ke masa. Untaian syair itulah yang tersebar ke berbagai negeri di Asia dan Afrika, tak terkecuali Indonesia.

Dalam memaknai bulan agung ini pula, saya berpesan kepada para ustadzah dan kader Muslimat untuk selalu memperhatikan dan membimbing akhlak generasi muda. Kita patut prihatin dengan masih tingginya angka  pengguguran kandungan di Indonesia. Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad, mari kita ber-muhasabah dan melakukan refleksi atas kondisi yang ada, khususnya peran seorang ibu di rumah tangga.

Peran ibu dalam ikut menjaga ketahanan rumah tangga tidak kecil. Ibu sering melakukan peran di rumah tangga yang sebenarnya menjadi tanggungjawab laki-laki. Baik yang terkait dengan pendidikan, gizi maupun kebutuhan sehari-hari anak.  Sehingga dengan cara itu tercipta keluarga sakinah, mawaddah warahmah.

Bila dalam keluarga banyak masalah, maka akan kesulitan menciptakan masyarakat yang berkualitas. Karena itu, semua orang tua, baik istri maupun suami, harus bersama-sama menciptakan keluarga yang berkualitas. Bila istri shalihah diminta selalu senyum kepada suami, maka suami juga harus selalu senyum kepada istrinya, sehingga dengan cara itu tercipta keseimbangan di rumah tangga.

Kondisi kesejahteraan bias dilihat dari yang diterima warga negara Kuwait. Di Kuwait, setiap hari kemerdekaan negara, warga Kuwait menerima tunjangan Rp 400 juta lebih per orang. Kemudian, setiap ulang tahun, masing-masing warga Kuwait menerima tunjangan voucher dari negara Rp 1 miliar lebih. Dan, setiap ada pemuda yang menikah, mendapat tunjangan mahar nikah sebesar Rp 1,5 miliar. Lalu, dari mana uangnya?  Sebuah keterangan Emir Kuwait mengatakan, uang untuk membayar tunjangan warga diperoleh dari minyak. Sumberdaya minyak di Kuwait, lanjutnya, semua dikelola negara. Kalau ada perusahaan asing, mereka adalah karyawan negara.

Sebagai perbandingan, perlu kita menengok PT Freeport yang mengelola tambang emas di Papua. Di mana, kabupaten yang memiliki gunung emas itu termasuk kabupaten tertinggal. Kondisi ini terjadi karena hasil tambang emas tidak ditasarufkan untuk masyarakat, tetapi hasil tambang ditasarufkan untuk negara lain. Kita pun menyadarai, umat Islam dihadapkan kepada kenyataan dunia. Karena itu, perlu adanya pengembangan umat secara global, sehingga mampu melakukan sorotan kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah terkait dengan penguasaan asing terhadap aset negara, seperti tambang emas dan batu bara.

Sudahkan para pemimpin kita telah meneladani perilaku dan tindakan Rasulullah SAW, dengan memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat?

Oleh: Hj.Khofifah Indar Parawansa

Ketua Umum Muslimat NU & Ketua Umum Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *