Akhlak & Moralitas Yang Buruk Penyebab Kehancuran

Islam menempatkan akhlak pada tempat yang sangat strategis, hal ini terwujud dalam beberapa hal diantaranya Rasulullah Saw. diutus kepada umatnya dengan membawa risalah yang telah diwahyukan Allah swt. melalui Jibril, diantaranya yaitu untuk menyempurnakan akhlaq. Sebagai mana sabda Rasulullah Saw. dalam salah satu haditsnya; “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlak. (HR. Malik).

Mendefenisikan agama sebagai akhlaq yang baik. Dalam sabda Rasulullah saw. ketika beliau ditanya tentang makna agama, beliau menjawab; “bahwa agama adalah akhlak yang baik“. Timbangan yang paling berat pada hari Kiamat adalah akhlak mulia. Rasulullah Saw. besabda; “Timbangan yang berat pada hari perhitungan nanti adalah takwa kepada Allah dan akhlak mulia“. Orang-orang mukmin yang bagus keimanannya dan lebih baik diantara mereka adalah yang paling mulia akhlaknya. Dan masih banyak lagi dalil yang menunjukkan bahwa Islam menempatkan akhlaq di posisi yang sangat tinggi. Sebaliknya bilamana manusia tidak memiliki aklak mulia maka hidupnya akan mengalami kehancuran.

Ibn Al-Qoyyim mengatakan bahwa Akar dari kesalahan yang bisa menyebabkan kehancuran itu ada tiga, pertama, kesombongan. Itulah yang menyebabkan iblis mengalami apa yang ia alami. Kedua keserakahan, dan itulah yang mengeluarkan adam dari syurga. Ketiga. Kedengkian, dan itulah yang menjadikan salah satu anak Adam membunuh saudaranya. Maka barangsiapa yang berlindung dari keburukan tiga akar kesalahan tersebut. Sesungguhnya ia telah melindungi dirinya dengan sebenar-benarnya. Karena kekafiran itu bersumber dari kesombongan. Karena kemaksiatan bersumber dari keserakahan. Sedangkan kezaliman itu bersumber dari kedengkian.

Sombong

Melatih diri kita untuk memperhatikan dan mengamati orang lain sampai orang tersebut mendapatkan kenikmatan dan anugrah dari Allah.
Mengedepankan sahabat-sahabat kita dari pada diri kita pada acara-acara tertentu.
Tidak memilah-milah dan membedakan para undangan.
Merasa tidak malu menggunakan pakaian yang sederhana di kalayak umum walaupun dia seorang kaya. Kalau merasa malu, sudah barang tentu dia terjangkit sifat sombong. (Ihya’ Ulumuddin).

Berbicara tentang sombong, Rasulullah Saw mendefinisikan dalam sebuah riwayat, “Kibr (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim). Dua kata kunci: menolak kebenaran dan meremehkan manusia, itulah sombong. Ketika ada rasa ingin menonjolkan dan membanggakan diri, ketika hati kita keras menerima nasihat terlebih dari yang lebih yunior, ketika pendapat kita enggan untuk dibantah bahkan tidak jarang dipertahankan dengan dalil yang dipaksakan, ketika kita tersinggung tidak diberi ucapan salam terlebih dahulu, ketika kita berharap tempat khusus dalam sebuah majlis, ketika kita tersinggung titel dan jabatan yang dimiliki tidak disebut, maka jangan-jangan virus takabbur telah meracuni diri kita.

Oleh karena itu, mari kita berlindung kapada Allah dari perbuatan sombong, baik dalam bentuk sifat, sikap maupun perilaku, karena ia dapat menjadi penghalang masuk jannah. Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk jannah (surga) seseorang yang terdapat dalam hatinya sifat sombong (kibr) meskipun hanya sebesar biji sawi.” (HR.Muslim).

Al Ghozali memberikan solusi untuk mengetahui apakah diri kita sudah terjangkit tiga penyakit di atas atau belum. Kita bisa melakukan dengan cara:

Serakah

Berbicara tentang keserakahan. Rasulullah Saw membagi menjadi dua dan masing-masing tidak akan kenyang. Pertama, seraka untuk menuntut ilmu, dia tidak akan kenyang. Kedua, seraka memburu harta, dia tidak akan kenyang. (Nabi Muhammad saw) Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas ra di atas, ada dua karakter orang seraka yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya.

Akhir dari tulisan ini. Saya sampaikan satu akhlak yang baik – Insya Allah – dapat menyelamatkan diri kita dari akhlak buruk di atas, yaitu sifat Zuhud.
Al-Hasan Al-Bashri ditanya: “Apa rahasia zuhud Anda di dunia?..” maka beliau menjawab: “ada empat perkara”

Aku yakin, bahwa rezekiku tidak akan diambil oleh orang lain, sehingga hatiku merasa tenang.
Aku yakin, bahwa amalku tidak akan dapat digantikan dan ditebus oleh orang lain, maka akupun sibuk memperbanyak amalku.
Aku yakin, bahwa sesungguhnya Alloh SWT pasti mengawasi segala perbuatanku, maka aku pun malu bila Dia melihatku bermaksiat.
Aku yakin, bahwa sesungguhnya kematian itu pasti selalu mengintaiku, maka akupun mempersiapkan segala bekal untuk menghadapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *