#1 – Kepala Sekolah & Jurus Dewa Mabuk

Dewa Mabuk, sebenarnya saya yakin, istilah ini hanya hasil rekaan manusia saja. Istilah ini biasa saya jumpai pada novel atau film yang berlatarbelakang silat atau beladiri yang lain. Jurus pamungkas ini seringkali digambarkan sebagai seorang yang sedang bertarung dan pertarungan tersebut sudah mencapai titik kulminasi, sehingga jurus Dewa Mabuk Akhirnya dikeluarkan.Jurus yang menggambarkan bahwa seseorang dapat bergerak di luar pakem beladiri, tidak memiliki rasa takut, tidak gampang ditebak, maju terus pantang mundur, dan mampu berkelit dari serangan lawan.

Kali ini jurus Dewa Mabuk saya gunakan sebagai istilah yang mewakili karakter saya dalam perjalanan mejadi pimpinan di SD Khadijah Pandegiling. Ceritanya begini, sekitar akhir tahun 2006, saya sudah beberapa kali mendapat tawaran untuk menjabat sebagai kepala di sebuah calon sekolah yang akan didirikan oleh Yayasan khadijah (salah satu almamater saya).

Sekarang mari saya ajak untuk mendalami siapa saya, sebagai pemegang gelar Master Sains dibidang psikologi social, saya memang banyak bekelana dari satu sekolah ke sekolah lain di beberapa tempat di Indonesia untuk memberikan pelatihan psikologis kepada para guru. Selain itu saya juga memberikan pelatihan yang basic nya sama di beberapa perusahaan, LSM maupun lembaga lain yang berminat pada materi yang saya tawarkan. Saat itu saya tergabung dalam sebuah lembaga yang tujuan utamanya adalah berusaha membantu menciptakan kondisi positif dalam lingkungan sekolah atau lingkungan kerja.Selain itu saya juga menjadi penulis lepas di sebuah majalah, menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, menjadi dosen tamu di perguruan tinggi yang lain, serta berusaha merintis sebuah bisnis kecil yang saat ini sudah kolaps.

Semua kegiatan di atas saya lakukan dengan Jakarta sebagai home town saya, sekitar 700 km dari kota kelahiran saya “Surabaya”.Gaya hidup? Ya mungkin pembaca bisa menebak gaya hidup saya, penghasilan lebih, bujangan, di Jakarta, masih muda, hehehehe silahkan dibayangkan sendiri. Namun saya juga mengisi waktu dengan mengembangkan hobi saya dengan sekolah fotografi di salah satu guru senior, fotografer legendaris Indonesia.

Sekarang menginjak suasana batin selama hidup di Jakarta.Secara fisik, saya tidak mengalami kekurangan, meskipun pernah beberapa saat hidup tanpa gaji, tabungan saya lebih dari cukup untuk tandon selama 1 tahun.Namun pergulatan batin adalah suatu hal yang tidak dapat diingkari oleh diri sendiri. Dengan gaya hidup anak muda Jakarta, perlahan kerinduan untuk mengajar Al Quran menyeruak, kerinduan akan ziarah ke Makkah dan Madinah bahkan mampu merobek hati dan mencairkan mata saya sampai tersedu-sedu. Lingkungan kerja saya memang selalu mengutamakan kesejahteraan batin, namun yang saya rasakan, kesejahteraan batin saya tetap mengalami lobang besar yang menganga, tidak dapat terpenuhi, karena ini sangat terkait dengan belief yang saya pegang dengan kuat.

Saya bersyukur, selama di Jakarta, saya terhindar dari pertemanan yang menjerumuskan saya, terhindar dari godaan narkoba, gaya hidup bebas, hura-hura tidak terkendali. Saya bersyukur berteman dengan beberapa orang yang cara beripikrnya berusaha selalu positif walaupun latar belakan kami berbeda. Saya bersyukur terhindar dari pertikaian yang tidak bermanfaat.Saya bersyukur pernah hidup sendiri di Jakarta dan saya tidak kalah.

Kembali ke tawaran menjadi kepala sekolah di Unit baru yang akan didirikan oleh Yayasan Khadijah. Dalam hati saya, sebenarnya saya sangat sengan dengan tawaran itu, namun dibalik kesenangan, saya harus memikirkan tawaran itu jauh lebih mendalam. Beberapa pertimbangannya adalah, saya tidak paham sama sekali dengan dunia persekolahan, saya belum pernah jadi guru sekolah secara formal di level apapun, saya paling tidak suka mengurusi administrasi, saya sangat suka ngajar melalui training, saya sangat suka penelitian, saya sangat suka fotografi, dan seterusnya dan seterusnya. Sesekali saya training ke luar kota, tentu saya menikmatinya dengan jalan-jalan dan memuaskan hobi fotografi saya. Semua kesenangan itu saya dapatkan di Jakarta bersama teman dan kehidupan saya saat itu.

Setelah melalui pemikiran mendalam, pertimbangan berbagai pihak, akhirnya, saya meninggalkan semua kesenangan di Ibu Kota Jakarta. Saya menguatkan tekad saya untuk menerima tawaran menjadi kepala di sekolah yang baru, Alhamdulillah sekolah ini terletak di Jalan Pandeging, salah satu jalan yang tidak saya sukai di Surabaya karena terkenal akan kemacetannya. Makin lengkaplah kenekatan saya saat itu.

Saya sadar betul.Kenekatan saya menerima tawaran menjadi kepala sekolah di SD Khadijah Pandegiling ini mengandung beberapa resiko besar. Diantara resiko yang terbesar adalah, saya akan menjadi bahan pergunjingan oleh warga Khadijah yang lain, “kok enak, datang langsung jadi Kepala Sekolah”, “apa bisa? Wong tidak punya latar belakang pendidikan sama sekali”, “dia kan jadi kepala karena KKN”, dan seterusnya.Mungkin bagi beberapa orang, kalimat itu bisaa, bagi saya, ini cukup berat.
Maka mulailah saya menjadi kepala sekolah pada 17 Juli 2007 di SD Khadjah Pandegiling. Tentu sebelum tanggal itu saya melakukan beberapa persiapan bersama tim pengajar, yayasan, dan pihak lain yang terkait. Dengan tim guru, saya berproses melalui beberapa kali pelatihan yang disiapkan yayasan, berproses dengan yayasan tentang fasilitas yang mungkin diadakan oleh yayasan, dan sebagainya. Untuk tambahan informasi, saya dan tim guru semuanya adalah orang baru dalam persekolahan, hanya ada satu guru yang pengalaman menjadi guru di tempat lain.

Jurus dewa mabuk pertama adalah pembuatan brosur sekolah, belum ada sekolahnya, belum ada gedungnya, belum ada perlelngkapannya, bahkan maket atau blue print bangunan sekolah ini juga tidak ada, mungkin pembaca agak sulit membayangkan.Promosi suatu produk yang terkait fisik dan non fisik, namun yang dipromosikan belum ada bentuknya, bahkan yang promosi juga belum paham betul. Komplit! Maka yang dibutuhkan adalah menujual imajinasi, Alhamdulillah tahun pertama, sebanyak 32 murid daftar, dan 32 pasang wali murid yang setengah tidak yakin, setengahnya lagi ragu-ragu akan perjalanan sekolah baru ini.

Satu minggu dari tanggal 17 Juli 2007, saya mendapat tugas dari dosen pembimbing saya untuk presentasi riset saya di Malaysia, selama 1 minggu. Alhamdulillah sepulang dari Malaysia, saya mendapati sekolah saya muridnya banyak yang mogok, tidak mau masuk kelas, ribut di kelas dan beberapa masalah lain. Maka mulailah jurus dewa mabuk keluar lagi menyelesaikan satu-persatu masalah yang ada.Dari hari ke hari. Saya menemui banyak hal yang harus diselesaikan, baik dari murid, guru, orang tua dan berbagai pihak lain yang terkait dengan sekolah.

Kenapa jurus dewa mabuk?Karena saya tidak punya dasar teoritis tentang persekolahan, tentang perguruan, tentang pendidikan, dan tentang administrasi.Sementara jabatan yang saya emban menuntut semua itu harus fasih dan lancar.Apa yang saya lakukan untuk menyelesaikan semua masalah itu sebenarnya hanya berdasarkan insting, atau hasil tanya kanan-kiri, atau curhat sesama kepala sekolah yang saya kenal. Alhamdulillah banyak masalah yang selesai dengan baik, namun ada juga masalah yang berlarut-larut walaupun akhirnya selesai juga.

Masalah komentar negative misalnya, alhamdulillah dapat terselesaikan dengan baik meskipun memerlukan waktu yang lama, karena komentar negative kalau dibalas komentar bukan akan menyelesaikan maslah namun akan menambah masalah, maka saya menyelesaikan dengan tetap bekerja sebaik yang saya mampu. Alhamdulillah tahun 2012 saya berhasil menjuarai kepala sekolah berprestasi tingkat kota Surabaya.

Masalah murid kelas 1 baru menangis dan mogok sekolah adalah masalah rutin tiap tahun yang perlu diselesaikan dengan cara yang berbeda-beda, karena masalahnya juga berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Tak jarang keterlibatan wali murid menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah ini.

Tentu masalah itu kalau diceritakan di tulisan ini akan memakan banyak kertas dan pembaca akan bosan membacanya, maka beberapa kejadian menarik yang positif akan saya ceritakan dalam kisah di belakang setelah bab ini. Saat ini SD Khadijah Pandegiling Alhamdulillah telah memenuhi pagu dan masih banyak calon peserta didik yang masuk daftar inden, bahkan daftar indennya telah mencapai satu kelas lebih.Harapan beberapa guru untuk menambah jumlah kelas yang asalnya dua kelas menjadi tiga kelas adalah masalah berikutnya yang perlu segera dipikirkan dan diselesaikan.

Surabaya, 13 April 2015

2 Responses to #1 – Kepala Sekolah & Jurus Dewa Mabuk

  1. Nurul h says:

    Wahh..pak iqbal makasih sudah berbagi dan sangat menginspirasi.semoga bisa menjadi penguat bagi mereka yg mencoba memulai dan meyakinkan para pihak yang ingin mencoba jurus mabuknya.

    Congratulation ya pak!!!

    #jakarta 200918 nhy

  2. Abdullah Sani says:

    Luar biasa.
    AlhamdulIllah jurus dewa mabuk yang dipake tepat sasaran. Indikasinya dalam satu tahun siswa sudah betah di sekolah. Semoga menjadi inspirasi bagi para calon kepala sekolah agar tidak takut menerima amanat. Pengalaman adalah guru yang terbaik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *