Category Archives: Tulisan dan Opini

Menghidupkan Mayit Dalam Masjid

MENGHIDUPKAN MAYIT DALAM MASJID
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Hanya yang meramaikan (syiar) masjid-masjid Allah, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, membayar zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah [09]:18)

Pada ayat sebelumnya (QS. At Taubah [09]:17), Allah SWT menjelaskan orang-orang atheis atau beragama tapi ber-Tuhan secara tidak benar (musyrik) tidak mungkin tertarik untuk meramaikan syiar masjid. Masjid artinya tempat bersujud kepada Allah, maka tidak mungkin orang yang tidak ada kemauan bersujud kepada Allah SWT mendatangi masjid. Mohon maaf, jika Anda yang tidak aktif berjamaah di masjid tersindir atau tertampar dengan ayat ini.

Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas (QS. At Taubah [09]:18) mempertegas bahwa orang-orang yang aktif mengisi aktifitas masjid (takmirul masajid) hanyalah mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, mendirikan shalat, membayar zakat, dan tidak takut kepada siapapun kecuali Allah. Merekalah yang juga siap mengurbankan jiwa, raga dan hartanya untuk merawat masjid, melengkapi sarana yang diperlukan, dan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk dana kegiatan keagamaan di masjid. Mereka dengan senang hati mengeluarkan dana berapapun untuk masjid sebab mereka yakin membangun dan merawat masjid sama dengan mempersiapkan bangunan rumah untuknya di surga sebagaimana yang dijanjikan Nabi SAW. Siapapun yang mendobrak kesepian masjid dengan aktifitas-aktifitas keagamaan dan sosial, maka dialah yang tidak merasakan kesepian di alam kubur, sebab semua kebaikannya menjadi penghibur di tengah kesunyian kubur.

Pada ayat di atas juga tersirat, orang yang tidak membayar zakat atau enggan berbagi kekayaan pada orang lain tidak akan aktif ke masjid. Ia sangat khawatir bertemu dengan orang-orang miskin yang meminta bantuan. Masjid adalah aset publik, maka semua orang:  miskin atau kaya, berpendidikan atau tidak, penguasa atau rakyat, sehat atau sakit berhak memasuki masjid. Semakin aktif seseorang ke masjid, berarti semakin dekat dengan tetangga dan orang sekitar dengan berbagai latarbelakangnya dan semakin pandai berempati untuk lebih berkesempatan berbagi.

Jika Anda lebih sering shalat di rumah atau di ruang kerja daripada di masjid terdekat dengan seribu alasan, maka sebaiknya Anda memperhatikan firman Allah SWT, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (.QS Al Baqarah [2]:43). Artinya, bergabunglah segera dengan semua orang yang Anda saksikan  sedang membungkukkan badan dengan keriangan dalam masjid itu. Anda pasti masih ingat kisah berikut ini. Suatu hari, seorang lelaki buta menghadap Nabi SAW untuk meminta keringanan tidak shalat berjamaah di masjid karena tidak ada yang menuntunnya. Nabi SAW mengiyakan.  Akan tetapi, ketika tamu itu berpamitan, Nabi SAW memanggilnya dan bertanya, “Apakah engkau mendengar adzan shalat?” “Ya,” jawabnya. Nabi SAW lalu meralat keringanan tersebut dan tetap memerintahkan shalat berjamaah di masjid. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a). Sebagai apresiasi untuk mereka yang aktif berjamaah dan mengisi kegiatan-kegiatan keagamaan di masjid, Nabi SAW bersabda, “Sungguh, semua orang yang meramaikan syiar masjid adalah keluarga Allah (ahlullah)” (HR. Abdullah bin Humaid dari Anas bin Malik r.a). Keluarga Allah artinya mereka sangat dekat dengan Allah, bahkan memperoleh jaminan tanggungan-Nya dalam semua urusan.

Apakah untuk menjadi muslim terbaik cukup dengan hadir secara rutin di masjid? Tidak. Jika Anda bertahun-tahun aktif ke masjid, tapi iman dan pola hidup Anda tidak berubah, maka hanya fisik Anda yang hidup sedangkan iman Anda telah mati. Untuk apa ke masjid  jika iman Anda tetap menjadi mayit? Masjid harus menghidupkan iman Anda yang sekarat. Menurut ayat di atas, pecinta dan pengisi kegiatan masjid diharapkan memiliki iman yang menumbuhkan perilaku positif, antara lain lebih berkualitas shalatnya, lebih bersemangat untuk berbagi, dan memiliki kepercayaan diri untuk bertindak “..dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah..” Percaya diri mutlak diperlukan untuk modal prestasi dalam segala hal. Sekalipun Anda siswa teladan atau wisdudawan terbaik, Anda pasti terkalahkan dalam kompetisi hidup oleh teman Anda yang tidak berprestasi, tapi memiliki semangat dan percaya diri.  Muslim dengan keimanan yang hidup tidak akan takut kepada siapapun, kecuali kepada Allah SWT. Ia sadar bahwa manusia hanya dituntut untuk bekerja, berusaha dan berkarya seoptimal mungkin, sedangkan sukses atau gagal bukan wilayah kekuasaanya. Pecinta masjid tidak akan kecewa apalagi malu dengan sebuah kegagalan. Dengan ketakutannya kepada Allah semata, ia menjadi pribadi yang berkarakter mulia yang membuahkan kepercayaan (trust) dari semua orang, serta mengundang daya tarik setiap orang untuk bekerjasama. Tidak ada modal kesuksesan yang lebih mahal daripada kepercayaan orang. Itulah iman yang hidup.

    Setiap memasuki masjid, Anda diajari Nabi SAW untuk berdoa, “Wahai Allah, ampunilah semua kesalahanku dan bukakan semua pintu rahmat untukku.”  Ini berarti setiap memasuki masjid, Anda dituntut untuk berjanji tidak mengulangi kesalahan dan merubah cara hidup yang memungkinkan pintu kesuksesan terbuka untuk Anda. Lakukan perenungan mendalam dalam masjid (i’tikaf) untuk introspeksi dan kuatkan kemauan untuk berubah. Bagaimana mungkin pintu rahmat dan kesuksesan terbuka untuk Anda jika sepulang dari masjid cara berfikir Anda tetap negatif, cara bicara Anda tidak berubah, dan semangat dan streategi kerja Anda tidak ada peningkatan. Hidupkan iman Anda melalui masjid.

Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Allah telah mengirimkan wahyu kepadaku (untukmu): “Wahai saudara para rasul, wahai saudara para pemberi peringatan! Berikan peringatan kepada kaummu, agar mereka tidak memasuki satu rumahpun dari rumah-rumah-Ku (masjid) kecuali dengan hati yang bersih, lidah yang benar, tangan yang suci dan kemaluan yang bersih (dari dosa). Jangan sekali-kali mereka memasuki rumah-rumah-Ku sedang ia masih berurusan kedhaliman pada orang lain. Aku benar-benar melaknatnya selama ia berdiri shalat di hadapan-Ku, sampai dia menyelesaikan kedhaliman itu kepada yang terdhalimi. Jika ia telah menyelesaikannya, Aku akan menjadi telinganya untuk mendengar, dan menjadi matanya untuk melihat. Ia akan menjadi kekasih dan pilihan-Ku. Ia menjadi tetangga-Ku bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada di dalam surga.” (HQR. Abu Na’im, Al Dailami dan Ibnu ‘Asaakir dari Hudzaifah r.a).

Pesan Malaikat Jibril di atas mengingatkan Anda untuk membersihkan hati dari D3 (dengki, dongkol dan dendam) dan S2 (serakah dan sombong) setiap memasuki masjid. Masjid harus menjadi alat pembersih virus hati. Tidak mungkin wajah Anda simpatik dan tutur kata Anda menyenangkan keluarga dan semua orang,  jika D3 masih mengotori hati Anda. Jangan berharap lampu menyala dari baterai yang telah mati. Jadikan semua sikap dan tindakan Anda menyenangkan orang dan hindari hal-hal yang menyakitkan apalagi mengambil sekecil apapun dari hak-hak mereka. Masjid harus membangkitkan iman yang stagnan dan menghidupkan iman yang telah mati. Setiap keluar dari masjid bertekadlah untuk merubah sikap dan tindakan Anda kepada istri, anak-anak Anda, anak buah Anda, pimpinan, tetangga, dan pelanggan Anda. Pastikan Anda telah merubah pola pikir, pola kerja dan pola hidup Anda setiap keluar dari masjid. Itulah hidup berkualitas yang tercerahkan dan mencerahkan, ”.. maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” Semoga kita termasuk dalam firman ini. Selamat menghidupkan mayit (iman yang mati) melalui ibadah masjid.

Berjiwa Merdeka Dengan Puasa

BERJIWA MERDEKA DENGAN PUASA

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku/Founder: “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”(www.terapishalatbahagia.net)
Ceramah Shalat Taraweh di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya 14 Juli 2013

Tahukah Anda bahwa Ramadlan berati pembakaran? Bisa berarti membakar lemak, karena tetap bekerja dan berkeringat sekalipun sedang berlapar-lapar puasa, dan bisa juga membakar dosa yang menumpuk. Kita harapkan, puasa juga membakar semangat untuk manjadi manusia merdeka. Paling tidak merdeka dari mental mengeluh dan mental peminta.

Mungkin luput dari penghayatan Anda, bahwa setiap shalat taraweh dan witir, Anda diajak sang imam bersenandung doa, Asyh-hadu an la ilaha illallah, astaghfirullah. As-aluka ridlaka wal jannata wa-‘adzubika min sakhatika wannar“ (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Aku memohon ampunan kepada-Mu. Wahai Allah, aku benar-benar mengharap ridlo-Mu dan surga. Jauhkan aku dari murka-Mu dan neraka.”  Khusus permohonan “ridlo-Mu,” saya terjemahkan secara bebas, “Oh Allah, aku ingin Engkau senang melihat aku.”

Apalah artinya, jika Anda kaya raya, tapi Allah tidak menyukai Anda. Di mata mukmin sejati, lebih baik miskin dengan ridlo ilahi, daripada kaya tapi Allah murka. Untuk apa Anda sehat wal afiat, jika kesehatan itu tidak mendatangkan ridlo Allah. Bagi mukmin yang cerdas, lebih baik sakit tapi Allah senyum melihat dia, daripada sehat tapi menjadi sarana durhaka.  Semoga Anda tidak mengalami  pilihan kepepet itu. Anda pasti sama dengan saya dan semua mukmin: ingin sehat, kaya dan sukses sekaligus disenangi Allah.

Untuk mengupas soal ridlo Allah, saya kutipkan doa Nabi ketika mendapat lemparan batu dari penduduk Thaif, desa kecil sebelah utara Mekah, yang belum faham visi misi Nabi. Orang tidak lagi bisa mengenal wajah Nabi saat itu, karena lumuran darah yang menutupi wajahnya. Giginya pun patah. Inilah doanya,  “Wahai Allah, kepada-Mu aku mengadukan kekuatanku yang lemah, ikhtiarku yang terbatas, dan diri yang hina di mata manusia. Engkau Tuhan Paling Pengasih dari semua pengasih, Engkau pelindung orang-orang yang tertindas dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau  menyerahkan diriku ini?. Kepada mereka yang tiada saya duga menyerangku (hari ini) atau kepada mereka yang bisa bertindak apa saja kepadaku?. Selama Engkau tidak murka kepadaku, semuanya tiada masalah bagiku. Sungguh, perlindungan-Mu tiada terbatas. Dengan cahaya-Mu yang mengusir kegelapan, dan memberi kebaikan permasalahan dunia dan akhirat, aku memohon agar Engkau tidak murka kepadaku. Demi Engkaulah aku rela dihinakan, asal Engkau ridla padaku. Tiada daya dan tiada kekuatan, kecuali dari-Mu.” (lihat Buku Doa Al Mustahabbah p. 17-18)

Kata kunci pada doa di atas adalah “ridlo.” Gigi yang patah, muka yang bermake-up darah tidak menjadi masalah sama sekali bagi Nabi asal Allah tidak murka kepadanya. Perjalanan seterjal apapun, lembah securam apapun atau gelombang ombak berapapun tingginya,  akan dilalui oleh Nabi demi mengejar ridlo-Nya. Cercaan orang sepedas apapun akan diterima dengan ikhlas oleh Nabi asal bisa meraih ridlo Allah. Bahkan Nabi menjadi pohon mangga: dilempar dengan batu, tapi dibalas dengan kiriman buah masak nan segar.

Semua Anda akan kembali kepada Allah. Kembalilah kepadanya dengan senyum dan disambut dengan senyum-Nya. Anda pasti tersiksa, jika berkunjung ke rumah orang, lalu tuan rumah itu muak melihat Anda, malas berbicara, atau menutup telinga ketika Anda berbicara. Tanpa suguhan apapun, Anda pasti bahagia, jika tuan rumah tiada henti tersenyum dan bersemangat berbicara dengan Anda.

Bagaimana kita bisa meraih ridlo Allah itu? Aminilah doa sang imam berikutnya, “Allahummaj’alna bil imani kaamilin, watahta liwaai sayyidina Muhammadin yaumal qiyamati saa-irin, Wabil qadloi rodlin.” (Wahai Allah, jadikan kami hidup dengan iman yang sempurna, tempatkan kami pada barisan pemegang bendera Nabi Muhammad pada hari kiamat, dan jadikan kami ridlo terhadap semua takdir-Mu). Jangan hanya mengamini, tapi berupayalah menjalani hidup sesuai dengan ujung doa itu, “Jadikan kami ridlo dengan semua takdir-Mu.”  Jika Anda ridlo dengan apapun takdir Allah, tidak mengeluh sama sekali dengan takdir yang tidak Anda sukai itu,  Allah pasti ridlo dengan siapapun Anda. Jika Anda ridlo dengan rizki yang sedikit, Allah akan ridlo menerima kehadiran Anda dengan pahala yang sedikit. Senyum Anda ketika mendapat takdir cobaan hidup, adalah senyum Allah untuk Anda, sebagai simbol ridlo-Nya.

Terimalah dengan ikhlas dan ridlo penyakit yang Anda derita sekarang ini, jangan mengeluh. Terimalah dengan senang cobaan kebangkrutan ekonomi sekarang ini. Jangan sekali-kali mengeluh karenanya. Terimalah dengan kesabaran, takdir Allah berupa pasangan hidup yang amat menjengkelkan Anda saat ini. Terimalah dengan senang hati dan optimis. Anda mungkin juga sedang diberi cobaan berupa anak yang menyesakkan dada Anda. Jangan mengeluh. Semua itu takdir Allah untuk menguji mukmin macam apa Anda sebenarnya. Juga untuk mencerdaskan dan mematangkan mental Anda untuk menghadapi kesuksesan besar yang sudah dipersiapkan Allah untuk Anda di kemudian hari. Percayalah. (baca Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, hal. 173-177)

Jika Anda mengeluh, Anda merasakan empat melapetaka: jiwa yang menderita, fisik yang rapuh bahkan bertambah sakit, doa yang tidak terkabul, dan kematian yang mengerikan.  Saya katakan kematian yang mengerikan, sebab  Allah tidak suka bertemu dan berbicara kepada orang mati dengan membawa keluhan atau kejengkelan terhadap takdir-Nya. Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi, “Barangsiapa tidak senang dengan keputusan dan takdir-Ku, maka hendaknya ia segera mencari Tuhan selain Aku”(HQR. Al Baihaqi dari Anas r.a). “Barangsiapa tidak beriman pada takdir-Ku: enak atau tidak enak, maka Aku tidak akan mengurusinya lagi” (HQR. Abu Ya’la dari Abu Hurairah r.a)

Sebaliknya, jika Anda ikhlas dan ridlo terhadap takdir Allah, Anda mendapat empat bonus kebahagiaan: jiwa yang bahagia, fisik yang lebih sehat, doa yang mudah terkabul dan kematian yang menyenangkan. Allah sangat senang melihat Anda dan Anda pun senang menerima apapun pemberian-Nya. Jika Anda meninggal pada saat demikian, Allah akan merangkul Anda. Keharuman ruh Anda menjadi rebutan malaikat di langit yang mengantarkan ruh ke pemiliknya yang sejati, Allah SWT.

Dengan puasa, Anda juga harus merdeka dari mental peminta. Ramadan adalah bulan kedatangan Malaikat Jibril untuk bertadarus Al Qur’an dengan Nabi SAW. Ia mendengarkan dengan seksama ayat demi ayat yang dibaca Nabi SAW. Bacaan Al Qur’an Anda juga selalu didengar para malaikat.  Berbahagialah dengan Al Qur’an dan bersenanglah Anda berdampingan dengan para malaikat selama Anda membaca ayat-ayat Allah itu. Salah satu pesan Jibril ketika bertemu Nabi SAW adalah, “(Wahai Muhammad)… manusia perkasa adalah manusia yang tidak bergantung lagi kepada manusia” (wa‘izzahu istighnaa-uhu ‘anin naas) (HR Al Baihaqi dari Jabir r.a). Muslim perkasa adalah muslim mandiri: tidak mengharap pemberian atau jasa orang lain, tapi berusaha bagaimana bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, bahkan berprinsip “aku harus menjadi pemberi.” Saya teringat beberapa sopir taksi di Inggris yang rata-rata sudah lansia. Mereka ingin hidup mandiri, tidak mau bergantung kepada siapapun termasuk anaknya sendiri. Dengan puasa dan sedekah selama Ramadan, kita berusaha meniru Allah: tidak makan, tapi selalu memberi makan orang.

Saya mengajak semua orang, termasuk yang tidak kaya untuk berbuka puasa dengan separuh porsi saja, agar bisa berbagi buka puasa pada orang lain. Dengan cara itu, saya menawarkan tiga bonus: ramadlan bukan menjadi bulan menumpuk lemak, shalat taraweh Anda aman dari kantuk yang biasanya terjadi karena terlalu kenyang, dan Anda mendapat tambahan pahala senilai sehari puasa dari penerima sedekah Anda.

Tahukah Anda jumlah orang miskin penerima BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) sekarang ini 15,5 juta orang.  Mereka berebut dan berdesakan menerimanya sampai tidak terasa menginjak wanita tua sampai ia meninggal. Inilah bantuan yang menyebabkan kepala desa takut diserbu warga, karena antara data penerima tertulis  dengan kenyataan di lapangan berbeda. Tertulis sebagai orang miskin, tapi ternyata rumah dan gaya hidupnya tidak menunjukkan kemiskinan. Sedangkan tetangga sebelahnya penghuni rumah kecil, pekerja penarik sampah tidak tercatat dalam daftar penerima BLSM. Terjadilah konflik horisontal dan vertikal. Semua konflik  itu terjadi karena kebanyakan orang tidak merdeka dari mental peminta. Mereka tidak malu dengan pekerja perawat taman kota di Surabaya yang beberapa hari yang lalu diwawancarai sebuah stasiun televisi, menolak BLSM karena melihat ada orang yang jauh lebih membutuhkan dari dirinya. Kenapa kita lebih suka diberi daripada memberi?. Tidakkah menurut Nabi, manusia pemberi lebih terhormat dari penerima. Maukah?

Bebaskan diri dari ketergantungan orang lain. Termasuk, bergantung pada orang lain untuk menuntun bacaan kalimat tauhid menjelang mati Anda. Orang yang menerima wasiat  Anda untuk mengajari la ilaha illallah itu tidak dijamin mati lebih akhir dari Anda. Biasakan membaca kalimat tauhid itu, agar terbentuk reflektivitas atau sensor otomatis, sehingga jika sewaktu-waktu Malaikat Izrail datang, secara otomatis Anda mengucapkannya dengan tegas dan benar, tanpa diajari siapapun.

Bagaimana dengan bacaan surat Yasin untuk orang yang akan meninggal? Nabi  SAW bersabda, “Yasin adalah jantung Al Qur’an. Siapapun membacanya dengan tujuan ridla Allah dan pahala akhirat, pastilah ia diampuni dosanya. Bacalah surat itu untuk siapapun di antara kalian yang akan meninggal” (HR Ahmad dan Abu Daud dari Ma’qil bin Yasar ra).  Hampir semua ulama sepakat bahwa bacaan Yasin untuk orang yang akan meninggal mendatangkan ridla Allah dan keringanan (ampunan)-Nya. Dalam hal ini, sebaiknya Anda juga tidak bergantung kepada orang lain. Sebab bisa saja terjadi, Anda meninggal sendirian tanpa ada orang mengetahuinya. Mengapa Anda tidak menghafal saja Surat Yasin mulai sekarang? Ada seorang guru sekolah dasar di Lamongan yang menjelang matinya membaca Surat Yasin sampai selesai dalam keadaaan setengah sadar. Beberapa detik setelah itu ia menutup akhir hayatnya dengan kalimat tauhid, la ilaha illallah. Silakan mulai menghafal surat itu, sedikit demi sedikit. Saya yakin bisa, jika ada kemauan dan memiliki mental kemandirian.   

Merdeka! Selamat menjadi manusia merdeka dari mental mengeluh dan mental peminta. Hasbunallah wani’mal wakil. (Kun Yaquta Foundation: 031.77337800)

 

SUKSES SELEKSI ROMADLON

Tanpa terasa bulan suci Romadlon hampir selesai, berarti Idul fitri segera tiba. Apa yang seharusnya muncul dibenak kita ? Semua orang Islam beriman telah mengetahui bahwa orang-orang beriman diwajibkan berpuasa dibulan Romadlon agar menjadi orang yang bertaqwa, sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh ayat 183 :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al Baqoroh:183).

Berdasarkan ayat diatas yang seharusnya muncul dihati dan pikiran tiap individu muslimin muslimah adalah “Apakah dengan akan berakhirnya bulan suci Romadlon tanda keberhasilan ibadah puasa telah berada pada diri individu muslimin muslimah ” atau “Apakah tanda-tanda sebagai orang yang bertaqwa (muttaqin) telah individu muslimin muslimah miliki ? Bukan shoping kemana atau membeli apa saja ?Secara umum segala sesuatu itu ada tanda-tandanya misalnya orang sehat ada tandanya seperti terlihat segar bugar , orang sakitpun ada tandanya seperti nampak pucat. Selanjutnya tanda orang orang yang bertaqwa itu apa? Alloh berfirman dalam surat Ali Imron ayat 134 :

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imron:134).

Menurut (QS. Ali Imron:134) ciri orang-orang yang bertaqwa adalah :

    Orang yang mau menafkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang atau sempit atau baik yang berpenghasilan besar atau kecil, uang sakunya banyak atau sedikit. Dengan bahasa lain Dermawan. Apakah ibadah puasa yang telah dilakukan mampu merubah sifat dan sikap dari yang kurang dermawan menjadi dermawan dari yang pelit menjadi gemar shodaqoh mari kita lihat pribadi kita masing-masing. Jika mampu merubah menjadi pribadi-pribadi yang dermawan suka memberi, gemar infaq dan shodaqoh maka bersyukur dan berbahagilah tanda orang bertaqwa yang pertama telah dimiliki.
    Mampu menahan amarah. Menahan amarah memang berat kalau tidak dibiasakan. Pernah pada masa Rosululloh Muhammad SAW ada seorang sahabat yang datang menghadap rosul seraya berkata “Ya rosululloh berilah aku wasiat yang dengan wasiat itu aku bisa masuk surga, kata rosul “ Jangan marah, jangan marah, jangan marah” nanti kamu akan masuk surga. Dari hadits ini menunjukkan pentingnya menahan amarah dan merupakan sikap sifat yang harus dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa (muttaqin). Apakah setelah berpuasa dibulan Romadlon kita bisa menahan amarah dan mengendalikan diri agar tidak gampang marah ? jika mampu menahan amarah berarti puasa kita berhasil.
    Mau memaafkan kepada orang-orang yang pernah berbuat salah pada dirinya. Memaafkan bagi orang yang tidak bertakwa merupakan perbuatan yang sungguh berat dan menyakitkan namun bagi orang yang bertakwa merupakan perbuatan yang harus dilaksanakan dan dibiasakan. Apakah Puasa yang telah kita laksanakan mampu mencetak pribadi kita menjadi orang yang pemaaf ? Jika ia maka berhasil kita melaksanakan ibadah puasa.

Dalam aktifitas sehari-hari di bulan Romadlon sebenarnya tiga ciri orang yang bertakwa telah dibiasakan dengan harapan selesai romadlon sudah tertanam pada diri orang-orangn beriman dan diamalkan terus dalam kehidupan sehari-hari. Jika Romadlon selesai dan orang-orang beriman sukses dalam mengikuti seleksi Romadlon berarti meraih gelar Muttaqin (orang-orang yang bertaqwa) yang memiliki sifat Dermawan ,tidak pemarah dan pemaaf, betapa indahnya hidup ini, kebahagiaan, kesejahteraan lahir dan bathin, ketenangan dan ketentraman dirasakan setiap umat, Subhanalloh itulah sebenarnya kehidupan yang harus dimiliki oleh orang-orang beriman. Allohu Akabar kalau seperti ini kenyataan hidup, aku ingin hidup seribu tahun lagi.

Oleh : Drs. Normantoko

Maulid Nabi Muhasabah Diri

Mementingkan pembinaan umat dan syiar Islam melalui kegiatan Maulid Nabi merupakan ikhtiar kita untuk mengambil hikmah sekaligus meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kita memaknai  peringatan kelahiran  Rasulullah SAW sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sepatutnya kita mencontoh perilaku Rasulullah SAW dengan memiliki akhlak yang baik. Dengan bacaan Barzanji yang berisi cerita  kehidupan Nabi Muhammad dengan  syair-syair  yang bernilai sastra  tinggi, umat Islam dapat berdoa kepada Allah dengan menyebut  nama Nabi Muhammad untuk mendapatkan syafaat Rasulullah SAW.

Dengan bershalawat, ada keyakinan mampu menyampaikan kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW. Saya mempunyai pengalaman, mempunyai seorang ustadzah beraliran sufi. Setiap kali memperingati Maulid Nabi Muhammad, dia membaca  Barzanji dan shalawat. Ketika sampai pada bacaan tertentu ustadzah tersebut larut dalam kekhusyukan sampai pingsan, karena merasakan kehadiran Rasulullah SAW. Dan, itu terjadi di setiap Maulid Nabi, sampai 9 kali saya menyaksikannya.

Dalam kitab Barzanji, keagungan akhlak Rasulullah tergambarkan dalam setiap perilaku Beliau sehari-hari. Sekitar umur tiga puluh lima tahun, Beliau mampu mendamaikan beberapa kabilah dalam hal peletakan batu Hajar Aswad di Ka’bah. Di tengah masing-masing kabilah yang bersitegang mengaku dirinya yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Rasulullah tampil justru tidak mengutamakan dirinya sendiri, melainkan bersikap akomodatif dengan meminta kepada setiap kabilah untuk memegang setiap ujung sorban yang dia letakan di atasnya Hajar Aswad. Keempat perwakilan kabilah itu pun lalu mengangkat sorban berisi Hajar Aswad, dan Rasulullah kemudian mengambilnya lalu meletakkannya di Ka’bah.

Kisah lain yang juga bisa dijadikan teladan adalah pada suatu pengajian seorang sahabat datang terlambat, lalu dia tidak mendapati ruang kosong untuk duduk. Bahkan, dia minta kepada sahabat yang lain untuk menggeser tempat duduknya, namun tak ada satu pun yang mau. Di tengah kebingungannya, Rasulullah SAW memanggil sahabat tersebut dan memintanya duduk di sampingnya. Tidak hanya itu, Rasulullah kemudian melipat sorbannya lalu memberikannya pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Melihat keagungan akhlak Nabi Muhammad, sahabat tersebut dengan berlinangan air mata lalu menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk, tetapi justru mencium sorban Nabi Muhammad SAW tersebut.

”Ya Nabi salâm ‘alaika, Ya Rasuul salaam ‘alaika, Ya Habiib salaam ‘alaika, Shalawatullaah ‘alaika…” (Wahai Nabi salam untukmu, Wahai Rasul salam untukmu, Wahai Kekasih salam untukmu, Shalawat Allah kepadamu…). Itulah bacaan shalawat dan pujian kepada Rasulullah yang selalu bergema saat kita membacakan Barzanji di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bila ada yang bertanya: apa tujuan dari peringatan Maulid Nabi dan bacaan shalawat serta pujian kepada Rasulullah? Dr. Sa’id Ramadlan Al-Buthi menulis dalam Kitab Fiqhus Siirah,” tujuannya tidak hanya untuk sekadar mengetahui perjalanan Nabi dari sisi sejarah saja. Tapi, agar kita mau melakukan tindakan aplikatif yang menggambarkan hakikat Islam yang paripurna dengan mencontoh Nabi Muhammad SAW.”

Annemarie Schimmel dalam bukunya, Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan terhadap Nabi SAW dalam Islam,  menerangkan bahwa teks asli karangan Ja’far Al-Barzanji, dalam bahasa Arab, sebetulnya berbentuk prosa. Namun, para penyair kemudian mengolah kembali teks itu menjadi untaian syair, sebentuk eulogy bagi Sang Nabi. Pancaran kharisma Nabi Muhammad SAW terpantul pula dalam sejumlah puisi, yang termasyhur: Seuntai gita untuk pribadi utama, yang didendangkan dari masa ke masa. Untaian syair itulah yang tersebar ke berbagai negeri di Asia dan Afrika, tak terkecuali Indonesia.

Dalam memaknai bulan agung ini pula, saya berpesan kepada para ustadzah dan kader Muslimat untuk selalu memperhatikan dan membimbing akhlak generasi muda. Kita patut prihatin dengan masih tingginya angka  pengguguran kandungan di Indonesia. Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad, mari kita ber-muhasabah dan melakukan refleksi atas kondisi yang ada, khususnya peran seorang ibu di rumah tangga.

Peran ibu dalam ikut menjaga ketahanan rumah tangga tidak kecil. Ibu sering melakukan peran di rumah tangga yang sebenarnya menjadi tanggungjawab laki-laki. Baik yang terkait dengan pendidikan, gizi maupun kebutuhan sehari-hari anak.  Sehingga dengan cara itu tercipta keluarga sakinah, mawaddah warahmah.

Bila dalam keluarga banyak masalah, maka akan kesulitan menciptakan masyarakat yang berkualitas. Karena itu, semua orang tua, baik istri maupun suami, harus bersama-sama menciptakan keluarga yang berkualitas. Bila istri shalihah diminta selalu senyum kepada suami, maka suami juga harus selalu senyum kepada istrinya, sehingga dengan cara itu tercipta keseimbangan di rumah tangga.

Kondisi kesejahteraan bias dilihat dari yang diterima warga negara Kuwait. Di Kuwait, setiap hari kemerdekaan negara, warga Kuwait menerima tunjangan Rp 400 juta lebih per orang. Kemudian, setiap ulang tahun, masing-masing warga Kuwait menerima tunjangan voucher dari negara Rp 1 miliar lebih. Dan, setiap ada pemuda yang menikah, mendapat tunjangan mahar nikah sebesar Rp 1,5 miliar. Lalu, dari mana uangnya?  Sebuah keterangan Emir Kuwait mengatakan, uang untuk membayar tunjangan warga diperoleh dari minyak. Sumberdaya minyak di Kuwait, lanjutnya, semua dikelola negara. Kalau ada perusahaan asing, mereka adalah karyawan negara.

Sebagai perbandingan, perlu kita menengok PT Freeport yang mengelola tambang emas di Papua. Di mana, kabupaten yang memiliki gunung emas itu termasuk kabupaten tertinggal. Kondisi ini terjadi karena hasil tambang emas tidak ditasarufkan untuk masyarakat, tetapi hasil tambang ditasarufkan untuk negara lain. Kita pun menyadarai, umat Islam dihadapkan kepada kenyataan dunia. Karena itu, perlu adanya pengembangan umat secara global, sehingga mampu melakukan sorotan kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah terkait dengan penguasaan asing terhadap aset negara, seperti tambang emas dan batu bara.

Sudahkan para pemimpin kita telah meneladani perilaku dan tindakan Rasulullah SAW, dengan memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat?

Oleh: Hj.Khofifah Indar Parawansa

Ketua Umum Muslimat NU & Ketua Umum Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah

Pendidikan Berbasis Karakter

“Ajarilah anak-anakmu untuk menghadapi zaman mereka”, begitulah petikan pesan Rasulullah. Pendidikan anak harus sejalan dengan perkembangan zaman. Di millenium kedua ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberi berbagai kemudahan sekaligus juga beragam permasalahan. Kemajuan di bidang teknologi informasi misalnya, menimbulkan permasalahan pornografi yang sangat memprihatinkan. Kemudahan di bidang komunikasi melahirkan generasi-generasi yang mengandalkan kunci jawaban via SMS saat ujian. Di sisi lain, kerusakan ekologi yang luar biasa juga membutuhkan penanganan secepatnya.

Pendidikan yang hanya berorientasi pada kemampuan akademis tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Pendidikan juga harus bisa membentuk generasi yang memiliki karakter unggul dan mempunyai kepekaan lingkungan yang tinggi. Hal inilah yang harus menjadi perhatian semua pihak, terutama sekolah. Sekolah diharapkan mampu menanamkan karakter unggul kepada peserta didik diantaranya taqwa kepada Allah, cinta alam dan menyayangi sesama. Nilai ketakwaan yang baik mendorong peserta didik belajar atas kesadarannya sebagai khalifah fil Ardl, sehingga menumbuhkan jiwa kepemimpinan, rendah hati dan tanggung jawab. Dengan karakter ini, ilmu yang diperoleh peserta didik akan digunakan untuk menjaga alam seisinya. Karakter menyayangi sesama akan menghapus sekat diskriminasi dan melahirkan karakter toleran, kedamaian dan kesatuan. Adapun beberapa karakter unggul lainnya adalah keadilan, kejujuran, percaya diri, pekerja keras, suka menolong, ikhlas, sabar dan syukur.

Ujung tombak pelaksanaan pendidikan berbasis karakter ini bukan hanya guru dan orang tua, tetapi juga masyarakat. Orang tua berperan menciptakan suasana pendidikan informal yang kondusif dan menguatkan karakter anak dengan menjadi teladan bagi mereka. Guru secara proaktif menanamkan karakter unggul dalam setiap mata pelajaran di sekolah. Sementara masyarakat memberi dukungan dengan melibatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan pembenahan lingkungan dan pemberantasan penyakit masyarakat seperti miras dan narkoba.

Pendidikan berbasis karakter ini tidak hanya diharapkan bisa mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi sekarang, tetapi juga mampu mengatasi masalah yang akan datang. Akhirnya, zaman terus berubah dan hanya dengan pendidikan yang tepatlah akan muncul generasi-generasi unggul di masa depan.

Oleh : Saiful Arifin, S.Pd.I

Guru SD Khadijah Pandegiling Surabaya

Perkaya Amal Ibadah di Bulan Ramadhan

Ramadhan merupakan bulan penuh berkah. Di bulan ini pula, Allah SWT mengobral pahala kepada umat-Nya yang giat menjalankan amal ibadah. Seperti yang dialami oleh Guru kita, bu Anik Retnowati. Beliau mencoba meraih banyak pahala di bulan suci ini dengan khatam membaca Al-Qur’an dalam waktu sebulan. Khatam membaca Al-Qur’an merupakan target pribadi yang sebisa-bisanya beliau penuhi di bulan puasa ini.

Target Khatam al-Qur’an ini di mulai dua tahun lalu. Awalnya, beliau “Tergoda” teman-temannya yang bisa khatam membaca Al-Qur’an selama bulan Ramadhan. Ramadhan tahun 2006, beliau mencoba khatam Al-Qur’an. Dalam satu hari, diusahakan selesai membaca satu juz. Sehingga dalam waktu 30 hari, beliau menyelesaikan 30 juz.

Ternyata tekad beliau membuahkan hasil. Selesai Ramadhan, beliau berhasil membaca 30 juz hingga ayat terakhir. Meski awalnya terasa berat dan susah, tetapi dengan tekad yang kuat dan rasa ikhlas dalam  menjalankan amalan ibadah beliau bisa memenuhi target yang sudah di idam-idamkan.

Dan target pada bulan ini, Insya Allah beliau merencanakan ingin khatam membaca Al-Qur’an dua kali. Jadi bila beliau bisa memenuhi target tersebut, pahala beliau akan berlipat-lipat ganda. Selagi Ramadhan masih lama, umat islam hendaknya berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah. Hal itu bisa dilakukan dengan khatam Al-Qur’an, memperbanyak salat sunnah dan sedekah ,serta membantu orang lain.

Muharram dan Cara Memuliakannya

Bulan Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah SWT dan umat Islam. Dan kini kita jumpai berbagai macam cara dilakukan oleh orang untuk menghormati bulan Muharram. Ada yang wajar dan ada yang tidak wajar, artinya ada yang benar dan ada yang menyimpang dari ajaran Islam. Lalu bagaimana yang sebenarnya?

Sehubungan dengan ini ada baiknya kita ketahui tentang rahasia Muharram ini. Jika dihubungkan dengan sejarah penanggalan Islam, maka Khalifah Umar bin Khattab-lah yang paling berperan. Sebab pada masa pemerintahan Umar inilah penanggalan Islam dimulai dan dicantumkan dalam dokumen-dokumen resmi pemerintahan.

Suatu ketika KhalifahUmar bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk menentukan penanggalan Islam. Di antara yang hadir itu ada yang usul agar penanggalan dimulai dari hari lahir Rasulullah s.a.w. Ada yang usul dihitung dari awal diangkatnya Muhammad S.a.w. menjadi Rasul.

Ada pula yang usul agar dimulai dari hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah, dan masih banyak lagi usulan yang muncul pada saat itu. Tetapi yang dipilih untuk disepakati adalah bahwa penghitungan tahun Islam dimulai dari tahun Hijrah Nabi s.a.w.
Lalu Umar bertanya, kalau tahun dimulai dari hijrah Nabi, maka bulan dihitung dari bulan apa? Para sahabat menjawab dari bulan Rajab, ada yang berkata dari bulan Ramadlan, ada yang mengusulkan dari bulan Dzulhijjah.

Utsman bin Affan mengusulkan agar awal tahun Hijriyah dimulai dari bulan Muharram, yaitu bulan sepulang para jamaah haji dari Mekah. Inilah yang disetujui oleh Khalifah Umar r.a. dan disetujui oleh umat Islam bahwa awal tahun (bulan) Islam adalah bulan Muharram.

Dan hal ini (pengukuhan tanggal Islam) terjadi pada tahun ke 17 H. (lihat Syarah Tadriburrawi, Abu Abdurrahman Solah, Dar al-Kutub Ilmiyah, Bairut). Jadi, sekarang, seharusnya orang yang mengaku muslim mengetahui dan paham tentang penanggalan Hijriyah (Islam).

Misalnya, pada tahun ini ( 2009 ) bulan-bulan Islam sebagai berikut. Januari 2009 M = Muharram 1430 H. (Januari = Tahun Baru Masehi/Nasrani). Februari 2009 M = Shafar 1430 H. Maret 2009 M = Rabi’ul Awal/Maulid 1430 H. April 2009 M = Rabiul Akhir/Ba’da Maulid 1430 H. Mei 2009 M = Jumadil Ula 1430 H. Juni 2009 M = Jumadil Akhir 1430 H. Juli 2009 M = Rajab 1430 H. Agustus 2009 M = Sya’ban 1430 H. September 2009 M = Ramadlan 1430 H. Oktober 2009 M = Syawal 1430 H. November 2009 M = Dzul Qa’dah 1430 H. Desember 2009 M = Dzul Hijjah 1430 H (18 Desember 2009 = 1 Muharram 1431 H / Tahun Baru Islam).

Ada banyak riwayat tentang sebab dan cara memuliakan bulan Muharram. Di Indonesia, masyarakat muslim telah menjadikan tanggal 10 Muharram sebagai lebaran atau hari raya bagi anak yatim. Itulah sebabnya pada hari itu masyarakat beramai-ramai merayakan dan memanja anak-anak yatim yang ada di lingkungannya.

Ada yang mengumpulkan mereka lalu diajak membaca ayat-ayat Al-Quran, usai acara mereka diberi makan dan amplop berisi uang. Ada juga yang diajak jalan-jalan ke tempat-tempat ziarah para wali/habaib, rekreasi seperti di pantai, di taman, di puncak, dan tempat-tempat indah lainnya.

Ada juga yang memberi santunan uang sekolah lengkap dengan panggung gembira, dangdut ria (dan ini yang terlarang), dan berbagai macam acara yang diselingi dengan sambutan para tokoh.

Mengapa mereka menyebutnya sebagai lebaran yatim? Mungkin mereka mendasari tradisi ini dengan hadis Nabi s.a.w. yang intinya menyatakan
“Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim di hari Asyura’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah SWT mengangkat derajatnya setiap helai rambut yang diusap satu derajat.”

Di samping itu umat Islam disunahkan berpuasa, sebagaimana hadis Rasulullah s.a.w. yang menganjurkan kepada kita agar berpuasa Asyura’ bahkan termasuk tanggal 9 Muharram yang disebut hari Tasu’a’, “Di kala Rasulullah s.a.w. berpuasa pada hari Asyura’ dan beliau memerintahkan untuk dipuasai, para sahabat menghadap Nabi s.a.w. seraya berkata: “Ya Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani”. Rasulullah s a w lalu bersabda :”Tahun yang akan datang, insya Allah aku akan berpuasa (juga) pada tanggal sembilan/tasu’a’ .” (H.R.Muslim dan Abu Dawud).

Latar belakang dimuliakannya bulan Muharram antara lain disebabkan hadis Nabi s.a.w. yang menceritakan banyak peristiwa yang terjadi pada bulan ini (terutama Asyura’) antara lain: hari penciptaan langit dan bumi, penciptaan Nabi Adam dan Ibu Hawa’ Alaihimas Salam, Nabi Ibrahim selamat dari api, tenggelamnya Fir’aun di Laut Merah, dan terjadinya hari kiamat nanti juga pada tanggal 10 bulan Muharram (hari Jumat), dan masih banyak lagi.

Lepas dari itu semua, yang penting adalah kita memuliakannya sesuai tuntunan Rasulullah s.a.w. seperti membantu anak yatim, berpuasa, memberi berbuka orang yang puasa. Juga amal-amal baik lainnya seperti memperbanyak zikir, membaca kalimat Tayyibah atau membaca Kitab Suci Al-Quran, dan lain-lain.

Tidak baik mengisi bulan Muharram dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Misal, mandi kembang tujuh rupa di malam Asyura’, atau bertapa di goa atau tempat-tempat sepi lainnya, atau mencuci benda-benda keramat (seperti keris, jimat, batu yang dikeramatkan) yang dianggap mengandung magis, dan lain-lain.
Wallahu a’lam bis shawab. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua. Amin.

Oleh : KH A MAHFUDZ ANWAR
Duta Masyarakat 21 Desember 2009

Jam Pelajaran Terlalu Banyak!

BANDUNG, KOMPAS.com – Praktik pendidikan di Indonesia saat ini telah salah kaprah. Orientasinya hanyalah pada aspek kognitif semata. Padahal, banyak aspek penting lain yang perlu diajarkan di sekolah, misalnya karakter daya juang.

Demikian dikatakan oleh pakar pendidikan Arief Rachman di sela Seminar Menyikapi Polemik Pelaksanaan Ujian Nasional yang diadakan Forum Guru Independen Indonesia (FGII) Kota Bandung, Senin (25/1/2010) di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.

“Ini kritik saya untuk pendidikan di Indonesia. Di sini, mengajarnya jauh lebih berat daripada mendidiknya. Lihat saja, misalnya, pengajaran rumpun humaniora lebih banyak pengetahuan kognitifnya. Sebaliknya, pembiasaan pada pembentukan sikap malah miskin. Inilah yang harus kita dobrak,” tutur guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Menurut Arief, yang juga Ketua Harian Komisi Nasional untuk Unesco ini, jumlah mata pelajaran di Indonesia sebaiknya dikurangi dari yang ada sekarang. Dibandingkan negara lainnya, beban mata pelajaran siswa di sekolah di tanah air jauh lebih berat.

“Sebaiknya lebih sedikit, tetapi bisa lebih dalam. Bukan banyak, tetapi cetek-cetek,” tutur pengajar yang mengaku terus berjihad untuk perubahan paradigma pendidikan di tanah air ini.

“Makanya, kalau ada mahasiswa yang diwisuda di depan dengan predikat cum laude, saya mesti tersenyum. Anak itu belum tentu punya semangat juang yang baik setelah lulus. Sebaliknya, anak yang suka jadi korlap (koordinator lapangan) di demo-demo dan IPK-nya cuma 2,9 malah survive,” tuturnya, sambil tersenyum.

Pada Senin (25/1/2010) siang, mewakili pemerintah, Arief terbang ke Jenewa, Swiss, untuk hadir di dalam acara International Biro of Education Conference, Unesco. Yang dibahas dalam pertemuan itu adalah bagaimana pembinaan dan pembentukan kurikulum pendidikan secara menyeluruh.

“Tetapi, ini bukan standardisasi,” tuturnya di Bandung, beberapa jam sebelum terbang ke Swiss.

Arief berharap, hasil pertemuan ini nantinya bisa memberi masukan kepada perbaikan kurikulum di tanah air.

//edukasi.kompas.com/read/2010/01/25/17500355/Arief.Rachman.Jam.Pelajaran.Terlalu.Banyak.
Arief Rachman:
Senin, 25 Januari 2010 | 17:50 WIB

BERHENTI sejenak, untuk MENANG

Tak selamanya berhenti adalah kalah. Betapa berharganya sebuah pemberhentian bagi upaya meraih kemenangan dalam sebuah event perlombaan. Balap mobil Formula 1 contohnya. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan saat berhenti?

Ternyata, hal terpenting dalam strategi untuk memenangkan perlombaan adalah ‘berhenti sejenak’ (pit-stop). Tak seorang pembalap, betapa pun kencangnya mereka melaju, bisa memenangi lomba tanpa mengambil Pit-stop. Lomba Formula 1 adalah soal adu kecepatan dan strategi, dan kemenangan sering ditentukan oleh soal penentuan waktu serta manajemen pit-stop itu.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, pit-stop dapat mewujud dalam berbagai bentuk. Mengikuti pelatihan atau pencerahan. Membaca buku yang mencerahkan. Berdo’a dengan penuh kesungguhan. Istirahat makan siang. Bercengkerama dengan keluarga. Mengobrol dengan sahabat dll. Pit-stop membantu kita meraih kehidupan yang utuh.

Bila kita terlalu sibuk, kita akan lupa menikmati hidup. Kita banyak kegiatan, namun kita lupa apa yang kita lakukan dan untuk apa kita melakukannya. Kita hanya melakukannya, tapi tanpa hati, tanpa visi tanpa jiwa. Walau sibuk, namun hidup kita kering dan gersang.

Lakukanlah pit-stop, maka hidup anda akan semakin bermakna. Keberadaan anda dirindukan orang-orang di sekitar. Pit-stop menjadikan hidup kita lebih hidup.

DUMAS, 20-02-2010

Akhlak & Moralitas Yang Buruk Penyebab Kehancuran

Islam menempatkan akhlak pada tempat yang sangat strategis, hal ini terwujud dalam beberapa hal diantaranya Rasulullah Saw. diutus kepada umatnya dengan membawa risalah yang telah diwahyukan Allah swt. melalui Jibril, diantaranya yaitu untuk menyempurnakan akhlaq. Sebagai mana sabda Rasulullah Saw. dalam salah satu haditsnya; “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlak. (HR. Malik).

Mendefenisikan agama sebagai akhlaq yang baik. Dalam sabda Rasulullah saw. ketika beliau ditanya tentang makna agama, beliau menjawab; “bahwa agama adalah akhlak yang baik“. Timbangan yang paling berat pada hari Kiamat adalah akhlak mulia. Rasulullah Saw. besabda; “Timbangan yang berat pada hari perhitungan nanti adalah takwa kepada Allah dan akhlak mulia“. Orang-orang mukmin yang bagus keimanannya dan lebih baik diantara mereka adalah yang paling mulia akhlaknya. Dan masih banyak lagi dalil yang menunjukkan bahwa Islam menempatkan akhlaq di posisi yang sangat tinggi. Sebaliknya bilamana manusia tidak memiliki aklak mulia maka hidupnya akan mengalami kehancuran.

Ibn Al-Qoyyim mengatakan bahwa Akar dari kesalahan yang bisa menyebabkan kehancuran itu ada tiga, pertama, kesombongan. Itulah yang menyebabkan iblis mengalami apa yang ia alami. Kedua keserakahan, dan itulah yang mengeluarkan adam dari syurga. Ketiga. Kedengkian, dan itulah yang menjadikan salah satu anak Adam membunuh saudaranya. Maka barangsiapa yang berlindung dari keburukan tiga akar kesalahan tersebut. Sesungguhnya ia telah melindungi dirinya dengan sebenar-benarnya. Karena kekafiran itu bersumber dari kesombongan. Karena kemaksiatan bersumber dari keserakahan. Sedangkan kezaliman itu bersumber dari kedengkian.

Sombong

Melatih diri kita untuk memperhatikan dan mengamati orang lain sampai orang tersebut mendapatkan kenikmatan dan anugrah dari Allah.
Mengedepankan sahabat-sahabat kita dari pada diri kita pada acara-acara tertentu.
Tidak memilah-milah dan membedakan para undangan.
Merasa tidak malu menggunakan pakaian yang sederhana di kalayak umum walaupun dia seorang kaya. Kalau merasa malu, sudah barang tentu dia terjangkit sifat sombong. (Ihya’ Ulumuddin).

Berbicara tentang sombong, Rasulullah Saw mendefinisikan dalam sebuah riwayat, “Kibr (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim). Dua kata kunci: menolak kebenaran dan meremehkan manusia, itulah sombong. Ketika ada rasa ingin menonjolkan dan membanggakan diri, ketika hati kita keras menerima nasihat terlebih dari yang lebih yunior, ketika pendapat kita enggan untuk dibantah bahkan tidak jarang dipertahankan dengan dalil yang dipaksakan, ketika kita tersinggung tidak diberi ucapan salam terlebih dahulu, ketika kita berharap tempat khusus dalam sebuah majlis, ketika kita tersinggung titel dan jabatan yang dimiliki tidak disebut, maka jangan-jangan virus takabbur telah meracuni diri kita.

Oleh karena itu, mari kita berlindung kapada Allah dari perbuatan sombong, baik dalam bentuk sifat, sikap maupun perilaku, karena ia dapat menjadi penghalang masuk jannah. Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk jannah (surga) seseorang yang terdapat dalam hatinya sifat sombong (kibr) meskipun hanya sebesar biji sawi.” (HR.Muslim).

Al Ghozali memberikan solusi untuk mengetahui apakah diri kita sudah terjangkit tiga penyakit di atas atau belum. Kita bisa melakukan dengan cara:

Serakah

Berbicara tentang keserakahan. Rasulullah Saw membagi menjadi dua dan masing-masing tidak akan kenyang. Pertama, seraka untuk menuntut ilmu, dia tidak akan kenyang. Kedua, seraka memburu harta, dia tidak akan kenyang. (Nabi Muhammad saw) Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas ra di atas, ada dua karakter orang seraka yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya.

Akhir dari tulisan ini. Saya sampaikan satu akhlak yang baik – Insya Allah – dapat menyelamatkan diri kita dari akhlak buruk di atas, yaitu sifat Zuhud.
Al-Hasan Al-Bashri ditanya: “Apa rahasia zuhud Anda di dunia?..” maka beliau menjawab: “ada empat perkara”

Aku yakin, bahwa rezekiku tidak akan diambil oleh orang lain, sehingga hatiku merasa tenang.
Aku yakin, bahwa amalku tidak akan dapat digantikan dan ditebus oleh orang lain, maka akupun sibuk memperbanyak amalku.
Aku yakin, bahwa sesungguhnya Alloh SWT pasti mengawasi segala perbuatanku, maka aku pun malu bila Dia melihatku bermaksiat.
Aku yakin, bahwa sesungguhnya kematian itu pasti selalu mengintaiku, maka akupun mempersiapkan segala bekal untuk menghadapinya.