Category Archives: Seputar Khadijah

Allahumma Junk Food

 Baru kali ini, saya menghadiri pelepasan jamaah haji, 12 Oktober 2012 dengan ribuan pengunjung. “Rombongan Haji Sabar” Kalibokor Surabaya dengan pembimbing Abah Rahman itu juga menghadirkan puluhan kiai yang diminta duduk berbaris di panggung kehormatan menghadap pengunjung.  Bagi Anda yang tidak biasa dalam komunitas tahlil dan istighatsah pasti heran dan mungkin tidak sabar mengikuti urutan acara pada malam itu. Tapi mereka yang sudah terbiasa, justru memperoleh kenikmatan dan kesyahduan.

Saya menyaksikan betapa riang wajah pengunjung menikmati suara “penerbang” hadrah dengan pasukan “tepuk khas” shalawatnya, sekalipun harus berdiri lebih dari 45 menit. Sesekali terdengar suara melengking komando “liar” shalawat dari barisan belakang, dan semua pengunjung  merespon shalawat itu dengan sedikit menggoyang badan ke kanan dan kiri. Sungguh mereka menikmati shalawat bersama itu, sekalipun tidak semua memahami maknanya. Inilah salah satu bentuk ekspressi cinta Rasul.

Bagi yang belum terbiasa, semakin tidak bersabar ketika harus mendengar 12 kiai berdoa pada akhir acara secara bergilir. Doanya juga panjang-panjang. Saya yang mendapat  giliran kesebelas hampir kehabisan doa, karena sudah dibaca semua oleh para kiai sebelumnya.  Giliran paling akhir adalah Kiai Luthfi Ahmad dari Ponpes TeeBee (Tambak Bening). Karena sudah malam, ia langsung pegang mike dan tanpa pengantar langsung berdoa, “Allahumma, Ya Allah, jauhkan kami semua dari junk food, junk food, jauhkan dari junk food...” . Saya sebenarnya tertawa dalam hati, tapi saya tahan, karena saya di atas panggung di depan ribuan orang. Baru kali ini ada doa jenis itu.

Usai acara, saya tanya,  “..pak kiai, doanya kok unik sekali?”. Ia menjawab, “..karena semua doa sudah diborong habis kiai sepuh, dan kita kiai muda, harus dengan doa unik..kan?”. Setelah berbicara panjang, ternyata bukan itu alasan utama. Kiai muda ini memang sedang berkampanye cinta lingkungan dan produk dalam negeri. Bahkan dalam sambutan sebagai wakil tuan rumah, ia juga berkali-kali menekankan pentingnya masyarakat kita mengonsumsi garam kasar (grosok) yang sangat menyehatkan, bukan garam lembut di supermarket.  “Garam kasar bukan hanya cocok untuk mengusir setan..ha ha,  tapi juga penyakit…”.  Sebelum pulang, kiai berjubah hitam, tampan dan berjenggot itu memberikan tafsir tentang doa uniknya.

Menurutnya, semua kiai harus peduli tentang kesehatan umatnya, dan menanamkan kesadaran akan bahaya penjajahan negara asing untuk masa depan Indonesia. Salah satu perusak kesehatan generasi muda kita adalah makanan cepat saji yang semakin hari semakin populer di kalangan anak muda kita.

Sebuah hasil riset yang dipublikasikan di India Gazette menunjukkan bahwa 85% dari anak-anak usia 10-14 tahun, didiagnosa terancam diabetes karena kebiasaan makan yang tidak sehat. Satu diantaranya adalah junk food atau makanan cepat saji.  Riset yang dilakukan oleh Delhi Diabetes Research Centre (DDRC) di bawah bagian dari Scheme of the Delhi melibatkan 5.802 anak sekolah di ibu kota. Penelitian yang difokuskan pada masalah obesitas dan perlunya mengubah pola makan yang cenderung meniru “mimic western lifestyle”.

Pada banyak acara ulang tahun, anak-anak sekolah kita mengajak temannya bermakan ria di restoran penyedia junk food. Bahkan salah satu acara pelepasan anak TK di sebuah lembaga pendidikan, juga diadakan di restoran itu. Semua anak dan orang tuanya dengan lahap dan bangga sebagai orang moderen mengonsumsi junk food di restoran pada komplek pertokoan mewah. Junk food adalah makan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Umumnya, yang termasuk dalam golongan junk food adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan gizinya sedikit. Junk food mengandung banyak sodium, saturated fat, dan kolesterol. Bila dalam tubuh jumlah ini banyak, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat semacam darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Dulu, penyakit-penyakit “berat” tersebut hanya diderita oleh orang-orang tua yang umurnya di atas 40 tahun. Tetapi, semakin tahun, penderita penyakit mematikan itu semakin muda saja umurnya. Kalau tidak bisa menjaga diri, bukan tidak mungkin dalam waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan, kaum remajalah yang menjadi si penderita itu. Sodium banyak ditemukan pada makanan yang dimakan dan minum. Sodium adalah bagian dari garam. Banyak makanan kemasan atau kalengan itu berkadar sodium tinggi. Sodium banyak terdapat pada french fries (apalagi bila ditambah dengan shakers), ayam goreng, burger, cheese burger, bologna, piza, segala jenis snack keripik kentang, dan mi instan.

Dalam perjalanan pulang, saya berfikir tentang anak-anak saya yang hampir tiada hari tanpa junk food. Ketika sampai di rumah tengah malam, saya membuka Al Qur’an. Menurut kitab suci ini, orang Islam harus selektif makanan. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sungguh,setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah [2]: 126). Makanan yang kita konsumsi haruslah halal (halalan) dan menyehatkan (thayyiban). Kekeliruan mengonsumsi makanan bisa berakibat sakit bahkan kematian. Kita perhatikan urutan konskuensi firman Allah dalam surat As-Syu’ara ayat 78-81 berikut ini. “…(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku..”. Berdasar ayat ini, Allah telah menciptakan manusia dan semua makanan, lalu memberi petunjuk apa dan bagaimana mengonsumsinya. Jika menyalahi petunjuk Allah, maka manusia akan sakit atau mati. Kiai muda  kita itu mengajak anak-anak sekolah membawa makanan sehat dan alami dari rumah, dan semua keluarga Indonesia lebih banyak menikmati pecel, sayur asem, sayur bayam, dadar jagung dan makanan-makanan khas Indonesia lainnya. Lebih hemat, sehat, halalan, thayyiban, kan? Allahumma jauhkan junk food…”

(Oleh :Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia)

Tingkatkan Kompetensi SDM, Khadijah Beri Beasiswa S-2

Peningkatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan Yayasan Khadijah terus dilakukan. Salah satunya adalah mendorong para pendidik dan tenaga kependidikan menempuh studi lanjut S-2 dan S-3. Demikian diungkapkan Direktur Pendidikan Yayasan Khadijah, Drs.H. Suwito, MM,  usai acara penandatanganan MoU penyerahan beasiswa S-2  kepada Ibu Ina Rochani, S.Pd, guru SMP Khadijah 2 Darmo Permai (Selasa, 3/4) di kantor SMP Khadijah 2 Jalan Darmo Permai Selatan V/61-63. Acara ini dihadiri oleh Drs. H. warry Zaen M.Pd (Ketua I Yayasan Khadijah), Drs. H. Suwito, M.Pd (Direktur Pendidikan Yayasan Khadijah), Drs. H. Lukman Hakim, M.Pd (Kepala SMP Khadijah 2), Ina Rochani, S.Pd (Wakil Kepala SMP Khadijah 2), dan beberapa guru dan karyawan SMP Khadijah 2. Program pemberian beasiswa kepada guru dan karyawan di lingkungan Yayasan Khadijah sudah dilaksanakan oleh Yayasan Khadijah melalui Direktorat Pendidikan beberapa tahun terakhir ini. “ Alhamdulillah, melalui program ini mayoritas pimpinan sekolah dan guru-guru mata pelajaran yang di-UN-kan ini sudah bergelar magister” kata Bapak Drs. H. Warry Zaen, M.Pd, ketua I Yayasan Khadijah  yang ikut menyaksikan penandatangan MoU penyerahan beasiswa S-2 kepada wakil kepala SMP Khadijah 2 tersebut. Dari program ini diharapkan kualitas SDM di lingkungan Yayasan Khadijah baik pendidik ataupun tenaga kependidikan semakin meningkat. “Inilah salah satu ikhtiar Yayasan Khadijah meningkatkan layanan pendidikan yang bermutu melalui peningkatan kompetensi SDMnya” kata mantan Ketua LP Maaarif NU Jawa Timur dua periode ini menambahkan. Sementara itu, Bapak Suwito berharap  kepada pimpinan sekolah di lingkungan Yayasan Khadijah untuk memotivasi para guru yang belum S-2 bisa segera melanjutkan S-2 meskipun jumlah prosentase guru yang sudah bergelar magister melebihi target yang disyaratkan oleh pemerintah di setiap unit pendidikan yang sudah berstatus RSBI ini. “Kalau gurunya selalu belajar meningkatkan kompetensi maka layanan pendidikan bermutu bisa diwujudkan, karena guru adalah pilar proses pendidikan di sekolah”, tegas bapak yang telah berhasil mengantarkan SMA Khadijah sebagai sekolah Islam favorit  yang bersatus RSBI ini.

Ada Apa dengan Lingkungan Sekolah SMA Khadijah ???

Sebagai sekolah yang berada di jantung kota dan dikelola oleh PB NU, sekolah telah menunjukkan potensinya yang baik. Strategi pengelolaan dimulai dari penguatan pelaksanaan tugas sehari-hari. Tingkat kebersihan sekolah, penghijauan sekolah tampak menjadi tanggung jawab bersama.

Sistem pengelolaan mendapat dukungan partisipatif dari semua fungsi. Tampilan fisik sekolah memperlihatkan keasrian dan dinamika yang sangat kuat. Sukses pengelolaan diperlihatkan pada kerapihan ruang kelas termasuk yang luar biasa. Tak ada sedikit coretan yang ada pada meja siswa menajadi indikator bahwa disiplin siswa telah terkendali baik. Aktivitas sosial siswa dalam kegaitan MOS juga menunjukkan bahwa sistem pembinaan siswa telah berjalan optimal. Hal ini terlihat dari aktivitas siswa, kerapihan berpakaian, penampilan fisik dan sikap sosial yang ditunjukkan telah menegaskan bahwa sekolah ini memiliki tingkat efektivitas daya bina sekolah yang amat baik.

Tiap sudut sekolah yang mungkin ditanami tumbuhan dapat dipelihara baik. Hal ini menandakan pula sekolah yang baik di Kota Surabaya memelihara taman dengan baik. Bahkan, untuk aktivitas fisik siswa terlindung dari sengatan matahari karena sekolah membangun koridor dengan atap yang dapat dibuka tutup setiap saat.