Category Archives: Kolom Cak Mim

#2 – Pembangunan Masjid 600 Juta

Dari awal perjalanan sekolah ini, saya mendapati bahwa gedung sekolah ini adalah bekas Hotel Pancar. Beberapa bagian dari gedung ini bisa di renovasi sehingga menjadi sebuah ruangan sesuai dengan kebutuhan, sementara beberapa bagian yang lain perlu perubahan yang lebih radikal. Salah satu impian saya ketika awal menjabat sebagai kepala sekolah, adalah berdirinya sebuah masjid yang akan menjadi pusat pendidikan dan pembisaaan beragama bagi seluruh warga Khadijah.

Masjid adalah impian.

Beberapa tahun saya bersama para guru berusaha mencari jalan agar keberadaan Masjid bisa terwujud di sekolah kami, pasalnya sebelum ada masjid, seluruh murid melaksanakan shalat di kelas masing-masing, dan ini saya rasa kurang bersatu.

Akhirnya pada tahun 2012 saya memberanikan diri untuk meminta salah satu wali murid untuk menggambarkan secara teknis keberadaan masjid di SD Khadijah Pandegiling. Dari gambar itulah saya dan beberapa teman mulai berproses, mulai komunikasi secara informal dengan beberapa wali murid, komunikasi formal dan informal kepada yayasan, sampai minta doa melalui istighotsah guru yang secara rutin dilaksanakan setiap bulan di level yayasan.

Maka pada Maret 2014, nekat lah kami segenap warga SD Khadijah Pandegiling untuk memulai pembangunan masjid. Beberapa wali murid yang terlibat secara aktif adalah Pak Budi (ayahnya Icha angkatan pertama) sebagai pembuat gambar teknis, Pak Efendi (ayahnya Kiki angkatan ke lima) sebagai pelaksana, dan beberapa wali murd yang lain yang secara sporadis menyumbangkan uangnya ke masjid di SD Khadijah Pandegiling.

Tanpa upacara peletakan batu pertama, tanpa upacara resmi untuk memulai pembangunan, tanpa diliput oleh media sebagaimana biasa kami lakukan untuk acara besar, kami para pengasuh di SD Khadijah Pandegiling mulai dengan restu yayasan, doa dari para murid, dan dukungan orang tua murid.

Kenekatan ini sebenarnya bukan tanpa alasan, SD Khadijah Pandegiling adalah satu-satunya sekolah Islam terbesar yang ada di Surabaya Pusat.Secara geografis, banyak sekali sekolah Katolik maupun Kristen yang secara kelembagaan adalah raksasa dibidangnya yang ada di Surabaya Pusat.Tak kurang dua Vihara besar juga bertengger di sekitar wilayah Pandegiling yang tentu juga memiliki basis masa yang kuat. Basis massa NU di Surabaya pusat sendiri sebenarnya sudah sangat kuat, terbukti pergerakan MWC NU di sini juga cukup massif, tokoh-tokoh NU juga banyak tinggal di sekitar sini.

Lalu di mana posisi SD Khadijah Pandegiling? Apa peran sekolah yang berbasis NU ini?. SD Khadijah Pandegiling berperan sebagai perekat sekaligus symbol kekuatan Islam di wilayah ini. Perekat artinya, semenjak berdiri, dan saya diminta menjadi kepala sekolah di sini, Alhamdulillah, ada pentolah pengurus NU Surabaya yang menyekolahkan anaknya di sini, maka saya secara khusus meminta, sebisa mungkin kegiatan NU Surabaya, di tempatkan di SD Khadijah Pandegiling. Sebagai symbol artinya bahwa keberadaan SD khadijah Pandegiling yang terletak di pinggir jalan utama, diharapkan mampu menunjukkan keberadaan NU di Surabaya pusat ini.

Lalu apa peran masjid dalam masyarakat? Posisi masjid yang berada di dalam sekolah memang sampai tulisan ini dibuat masih belum bisa di akses oleh masyarakat umum.Dari acara NU yang terakhir diadakan di sini, beberapa pengurus maupun aktifis NU secara lisan menyatakan keinginannya untuk melaksanakan kegiatan NU maupun banom-banomnya dilaksanakan di masjid ini.

Yang unik dari proses pembangunan masjid ini adalah, partispasi wali murid yang di luar dugaan saya. Tak jarang pintu kantor saya diketuk oleh wali murid sambil kemudian bicara sebentar dan mengulurkan amplop yang isinya beragam, yang terbesar dari isi amplop tersebut adalah 5 juta.semua itu datang sendiri, pihak sekolah tidak pernah secara resmi mengirim surat permintaan sumbangan kepada wali murid untuk pembangunan masjid ini.Pembangunan berlangsung kira-kira 11 bulan, Alhamdulillah masjid saat ini bisa dimanfaatkan untuk shalat jamaah secara penuh selama jam sekolah.

Berapa pengalaman lucu pada saat masjid pertama kali dimanfaatkan adalah komentar Wahyu (kelas satu Umar), saat itu masjid masih terkunci oleh Tejo (juru kunci masjid merangkap petugas kebersihan), akibat terlalu lama menunggu kedatangan sang juru kunci dan saking semangatnya para murid untuk segera melaksanakan shalat, muncullah kalimat “pak saya ini mau ibadah, jangan dihalangi pak”. Kontan saya tersenyum mendengar komentar wahyu yang masih polos itu.

Berbeda dengan wahyu, kali lain, Alfin, Aji, Akbar dan beberapa murid kelas 4, tiba-tiba bertanya.

“pak, pak Iqbal beli kopyah yang dipakai itu di mana?” hehehe saya tentu kaget dengan pertanyaan itu.

“kokbisa tidak menjepit rambut ya pak? Padahal itu kan dari bamboo?”

Ya, saya yakin komentar semacam ini juga banyak muncul dari murid lain kepada para guru, saya bersyukur, bukan cuma itu, beberapa komentar melalui media sosial juga tampak muncul dan Alhamdulillah positif.Alhamdulillah.

15 April 2015

 

#1 – Kepala Sekolah & Jurus Dewa Mabuk

Dewa Mabuk, sebenarnya saya yakin, istilah ini hanya hasil rekaan manusia saja. Istilah ini biasa saya jumpai pada novel atau film yang berlatarbelakang silat atau beladiri yang lain. Jurus pamungkas ini seringkali digambarkan sebagai seorang yang sedang bertarung dan pertarungan tersebut sudah mencapai titik kulminasi, sehingga jurus Dewa Mabuk Akhirnya dikeluarkan.Jurus yang menggambarkan bahwa seseorang dapat bergerak di luar pakem beladiri, tidak memiliki rasa takut, tidak gampang ditebak, maju terus pantang mundur, dan mampu berkelit dari serangan lawan.

Kali ini jurus Dewa Mabuk saya gunakan sebagai istilah yang mewakili karakter saya dalam perjalanan mejadi pimpinan di SD Khadijah Pandegiling. Ceritanya begini, sekitar akhir tahun 2006, saya sudah beberapa kali mendapat tawaran untuk menjabat sebagai kepala di sebuah calon sekolah yang akan didirikan oleh Yayasan khadijah (salah satu almamater saya).

Sekarang mari saya ajak untuk mendalami siapa saya, sebagai pemegang gelar Master Sains dibidang psikologi social, saya memang banyak bekelana dari satu sekolah ke sekolah lain di beberapa tempat di Indonesia untuk memberikan pelatihan psikologis kepada para guru. Selain itu saya juga memberikan pelatihan yang basic nya sama di beberapa perusahaan, LSM maupun lembaga lain yang berminat pada materi yang saya tawarkan. Saat itu saya tergabung dalam sebuah lembaga yang tujuan utamanya adalah berusaha membantu menciptakan kondisi positif dalam lingkungan sekolah atau lingkungan kerja.Selain itu saya juga menjadi penulis lepas di sebuah majalah, menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, menjadi dosen tamu di perguruan tinggi yang lain, serta berusaha merintis sebuah bisnis kecil yang saat ini sudah kolaps.

Semua kegiatan di atas saya lakukan dengan Jakarta sebagai home town saya, sekitar 700 km dari kota kelahiran saya “Surabaya”.Gaya hidup? Ya mungkin pembaca bisa menebak gaya hidup saya, penghasilan lebih, bujangan, di Jakarta, masih muda, hehehehe silahkan dibayangkan sendiri. Namun saya juga mengisi waktu dengan mengembangkan hobi saya dengan sekolah fotografi di salah satu guru senior, fotografer legendaris Indonesia.

Sekarang menginjak suasana batin selama hidup di Jakarta.Secara fisik, saya tidak mengalami kekurangan, meskipun pernah beberapa saat hidup tanpa gaji, tabungan saya lebih dari cukup untuk tandon selama 1 tahun.Namun pergulatan batin adalah suatu hal yang tidak dapat diingkari oleh diri sendiri. Dengan gaya hidup anak muda Jakarta, perlahan kerinduan untuk mengajar Al Quran menyeruak, kerinduan akan ziarah ke Makkah dan Madinah bahkan mampu merobek hati dan mencairkan mata saya sampai tersedu-sedu. Lingkungan kerja saya memang selalu mengutamakan kesejahteraan batin, namun yang saya rasakan, kesejahteraan batin saya tetap mengalami lobang besar yang menganga, tidak dapat terpenuhi, karena ini sangat terkait dengan belief yang saya pegang dengan kuat.

Saya bersyukur, selama di Jakarta, saya terhindar dari pertemanan yang menjerumuskan saya, terhindar dari godaan narkoba, gaya hidup bebas, hura-hura tidak terkendali. Saya bersyukur berteman dengan beberapa orang yang cara beripikrnya berusaha selalu positif walaupun latar belakan kami berbeda. Saya bersyukur terhindar dari pertikaian yang tidak bermanfaat.Saya bersyukur pernah hidup sendiri di Jakarta dan saya tidak kalah.

Kembali ke tawaran menjadi kepala sekolah di Unit baru yang akan didirikan oleh Yayasan Khadijah. Dalam hati saya, sebenarnya saya sangat sengan dengan tawaran itu, namun dibalik kesenangan, saya harus memikirkan tawaran itu jauh lebih mendalam. Beberapa pertimbangannya adalah, saya tidak paham sama sekali dengan dunia persekolahan, saya belum pernah jadi guru sekolah secara formal di level apapun, saya paling tidak suka mengurusi administrasi, saya sangat suka ngajar melalui training, saya sangat suka penelitian, saya sangat suka fotografi, dan seterusnya dan seterusnya. Sesekali saya training ke luar kota, tentu saya menikmatinya dengan jalan-jalan dan memuaskan hobi fotografi saya. Semua kesenangan itu saya dapatkan di Jakarta bersama teman dan kehidupan saya saat itu.

Setelah melalui pemikiran mendalam, pertimbangan berbagai pihak, akhirnya, saya meninggalkan semua kesenangan di Ibu Kota Jakarta. Saya menguatkan tekad saya untuk menerima tawaran menjadi kepala di sekolah yang baru, Alhamdulillah sekolah ini terletak di Jalan Pandeging, salah satu jalan yang tidak saya sukai di Surabaya karena terkenal akan kemacetannya. Makin lengkaplah kenekatan saya saat itu.